“Kenapa bisa begitu? Aduh, seharusnya yang seperti itu nggak boleh
ada di organisasi kita.” Ujar Qima begitu aku selesai menceritakan kondisi
organisasiku.
Aku lantas menghela dan sedikit tertawa.
“Qim, kok kamu bilang seperti itu?”
“Ya jelaslah, Riziya sayang. Organisasi kita kan organisasi yang
bernafaskan islam. Persyaratan menjadi anggota adalah mau belajar Islam secara
kaffah. Kalau anggota kita seperti itu, artinya mereka nggak layak jadi
anggota.” Sahutnya lagi.
Serta merta hatiku menjadi sedih mendengar hal itu. Sempit sekali
pemikiran sahabatku ini. Jika semua teman-teman organisasi kami seperti ini,
pantas saja sampai sekarang tidak ada hal baik yang terjadi. Mengutamakan persyaratan
‘belajar Islam secara kaffah’ daripada kemampuan yang berkaitan dengan
organisasi. Memang organisasi kami adalah organisasi yang bernafaskan Islam dan
menulis untuk menyampaikan hal itu, namun rasanya tidak adil bila harus sudah
mencapai hal itu dulu baru bisa masuk. Terlalu keras, sungguh terlalu keras. Jelas
nggak akan ada generasi yang mau maju belejar di organisasi kami jika seperti
ini.
“Ck ck ck…” aku menggeleng
sedih, “Pikiranmu sungguh terlalu jauh, Qima. Aku paham kalau organisasi kita
bertujuan untuk memberikan pelajaran agama, mendidik pelajaran agama, dan
menyebarkan pelajaran agama. Tapi apa yang kamu pikirkan baik untuk dilakukan
itu tidaklah tepat. Terlalu keras. Teman-teman bisa saja lari sebelum mencoba
loh. Dan apakah kamu menyadari apa artinya itu?” tanyaku mencoba untuk tenang.
Qima mengerutkan kening, sepertinya gadis berjilbab lebih besar
dariku ini tampaknya belum bisa mencerna kata-kataku. Apakah bertele-tele ya
caraku menjelaskan? Ah, tidak, semoga saja tidak.
“Menurutku, jika itu yang dipikirkan teman-teman, jelas kita tidak
akan berhasil mencapai tujuan, yaitu berdakwah menyebarkan Islam. Bukankah
Islam mengajarkan kita dengan cara-cara yang baik? Rasulullah saja tidak
langsung menegur keras para sahabat yang melakukan kesalahan. Misalnya minum
arak atau sesuatu yang beralkohol. Bukankah Allah tidak langsung menegur
ummatnya Nabi kita dengan menurunkan ayat yang berkata misalnya begini; ‘wahai
umat muslim, berhenti minum arak sekarang juga!’, apa pernah? Bukankah tidak? Karena
Allah sendiri menurunkan ayat secara bertahap untuk mengajarkan kepada umat
Islam apa yang benar dan apa yang salah. Sama seperti ketika kita ingin
mengambil langkah seribu, apakah bisa kita langsung berada di langkah kaki kita
yang ke seribu? Jelas tidak kan? Pasti selalu dimulai dengan langkah yang
pertama.” Kataku mencoba yakinkan Qima.
Ya, memang harus hati-hati aku berbicara. Aku bukan lagi orang yang
memperdalam agama saat ini. Aku sudah menghentikan akses itu sejak empat tahun
yang lalu sehingga jelas aku tidak memiliki hak menegurnya seperti ini. Sebab dia
masih berjalan di atas titian cahaya itu. Sedangkan aku? Tapi meski aku nggak
lagi perdalam agama, tidak berarti aku menghapus jejak-jejak agama itu dari
dalam diriku bahkan hidupku. Aku bukan sudah merasa cukup dengan pengetahuan
agama yang pernah kupelajari. Aku bukan juga sudah merasa sombong dengan apa yang
kumiliki. Namun, aku hanya berpikir, biarlah pengetahuan ini sedikit asal
bermanfaat. Dasar yang kuat lebih baik daripada dasar yang lemah tapi di luar
kelihatan megah. Karena bagiku, dasar itu adalah pegangan yang membuat segala
sesuatu tidak akan runtuh dengan mudah. Walaupun megah tapi runtuh terlalu
cepat, aku sungguh tidak menginginkan hal itu.
“Sama seperti kita dan organisasi kita. Harusnya kita nggak boleh
langsung melarang orang untuk seperti itu. Tapi ajarilah sedikit demi sedikit. Sekarang
ini biarkanlah mereka berjalan apa adanya. Asalkan kita tidak meninggalkan tapi
terus mengarahkannya, kita tidak akan kehilangan mereka dan harapan kita
tentang mereka. Yang salah itu kalau kita langsung memaksa, wah jelas mereka
akan mudah lari kan? So, pelan-pelan saja. Sedikit demi sedikit kita ajari
mereka.”
Qima tertawa. Entah menertawakan apa atau siapa.
“Ok ok, baiklah kalau begitu. Begini saja. Okelah, anggap saja saya
tidak tahu. Tapi kamu ingat kan organisasi kita itu intinya apa?” Qima mulai
mengalah, aku hanya mengangguk. “Kalau begitu, jalankanlah yang menurutmu
sesuai, tapi jangan sampai para petinggi tahu hal ini. Kalau petinggi tahu,
kamu dan organisasimu pasti akan dipertanyakan.”
Aku lagi-lagi sedikit tertawa.
Menyembunyikan dari petinggi? Apa boleh bagitu? Kenapa? Apakah itu
baik? Atau buruk? Kenapa harus disembunyikan?
“Hm…aku akan pertimbangkan.” Sahutku. Selanjutnya percakapan kami
tak bisa kulanjutkan lagi. Handphone-ku yang bordering memaksaku berpisah
darinya.
Saat meninggalkan kampus, hatiku kembali dirundung masalah. Ya, ini
masalah untukku karena ini masalah yang harus kuselesaikan. Masalah ini adalah
tugas baru untukku. Tugas baru yang pada dasarnya juga teguran untukku. Hm…
Maros,
18 Juli 2012
Hmmm....
BalasHapusNice Story!!! Two Thumbs Up!!!
By the way...
What your Org. at your Campus?
Just Perisai. No more.
HapusWhy?