Rabu, 16 Mei 2012

Salahkah?

Aku berharap dapat menjadi rembulan bagimu, yang kan selalu menerangi malam gelapmu yang sepi.

Aku barharap dapat menjadi awan bagimu, yang kan selalu menyejukkanmu dari luapan mentari emosimu.

Aku berharap dapat menjadi hujan bagimu, yang siap menyirami hatimu dengan kata-kata indah dari butir-butir kasihku yang jatuh.

Rindu Kematian

Tergeletak aku dalam kesunyian..
Bertepi-tepi, tapi tak menemukan tepi..
Kosong dalam arti ketiadaan..
Hilang tak berharapkan lagi hadir cahaya..

Kurindukan Jiwamu

Kurindukan jiwamu
Yang tenang saat ku gelisah
Yang ceria saat ku suram

Kurindukan jiwamu
Yang penuh kan kata-kata mutiara
Yang penuh kan kesejukan

7 Blossom Prince

[Terinspirasi dari para admin di page Indonesian Vampire Knight. Nama tokoh diambil dari nama chara buatan admin-admin di page tersebut dengan tujuan untuk mengabadikan nama mereka sehingga novel ini masih akan terus mengalami perbaikan. Novel ini adalah sebuah hadiah untuk mereka yang kusayangi di page itu. Adapun nama lainnya akan dimasukkan di novel berikutnya. Jadi, terima kasih sudah mau membaca. Mohon beri komentar apapun untuk meningkatkan kualitas novel ini. salam ---ArineYuki Afz---]
Epilog
Sara     : aku lelah...aku merasa lelah dengan semua yang kualami...
Ichiru   : kenapa bisa begitu? Sara-chan, kuharap kamu tidak berpikir yang aneh-aneh.
Sara     : memang tidak, Ichiru. Hanya saja...
Kotak chating itu terdiam. Tidak ada lanjutan kata-kata dari si pemilik nama Ichiru. Sara mencoba menunggu, tapi dia tidak punya cukup kesabaran untuk itu terlalu lama.
Ichiru   : Sara! Sara-chan, kau sedang apa?
Masih tidak ada jawaban.
Ichiru   : Sara!!
Ichiru mencoba memanggilnya lagi. Ditatapnya layar komputer itu dengan perasaan yang kesal sekaligus resah. Jemarinya lalu kembali bergerak ke arah keyboard. Namun, belum lagi menyentuh salahsatu huruf, ia menghentikannya di udara. Sebuah balasan muncul sebelum akhirnya titik hijau tanda orang di seberang masih aktif akhirnya menghilang.
Sara     : Maafkan aku, Ichiru. Sayonara...
Kalimat itulah yang muncul. Ya, hanya ada kalimat itu, sebelum akhirnya kontak mereka berakhir. Brak!!! Ichiru lantas memukul meja komputernya dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Wajahnya memerah saking kesalnya ia. Lalu keningnya mengerut saking terlukanya ia. Rambut lurus hitam pekatnya yang sudah memanjang lantas jatuh ke arah depan dan menutupi ekspresinya. Setetes demi setetes airmata jatuh dan hampir mengenai keyboard komputer. Ichiru mulai menangis, terdengar dalam dan pilu.
“Sara...chan...” ucapnya, samar...
----ArineYuki AFz---

Sabtu, 12 Mei 2012

Dunia Lain


Kira…Kira, kau dimana? Yuris…Dara…Anton…Mika…Garis…kalian semua di mana?" seruku ketakutan. Bagaimana tidak, aku berjalan sendiri dalam kegelapan. Aku tidak menemukan adanya lentera atau cahaya api kecil sekalipun. Bahkan aku kehilangan sahabatku Kira dan teman-teman yang selalu ada untukku dikala aku sedih. Tempatku berpijak saat ini, benar-benar gelap dan sunyi. Membuat…bulu kudukku terasa merinding.
Kucoba memanggil mereka sekali lagi. Namun…sepertinya sama saja, tak ada sahutan di sana. Ketika baru saja aku melangkah, sesuatu terasa menyambar rambut ikalku yang panjang. Menjadikan tubuhku terasa dingin dan tegang, rambutku bergerak mengikuti arah perginya sosok itu. Aku pun menoleh ke arah kanan bahuku, tapi aku tak menemukan siapa-siapa di sana. Bahkan kemana pun dan sejauh apa pun mataku memandang. Sebab semua tetap sunyi dan sepi, sedang tempat ini terasa tak berpenghujung.
"Garis…kaukah itu?" tanyaku mencoba melangkahkan kaki menuju arah dimana sosok tadi pergi, walau aku sendiri tak tahu pasti arahnya.
"Gariss…" panggilku lagi, penuh harap dan cemas. "Garis, kaukah itu?".
"Hai, sayang…" suara yang amat kukenal itu tiba-tiba berbisik tepat di telinga kiriku. Aku sedikit merinding ketika telapak tangannya terasa menyingkirkan rambut ikalku ke belakang dan kemudian menyelipkan bunga mawar merah di antara telinga dan rambutku, persis ketika pertama kali dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku.
 "Garis…?" ucapku sambil membalikkan tubuhku. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika tahu, pacarku tidak ada di belakangku. Aku justru melihat satu peristiwa yang tiba-tiba membuat ruangan gelap ini menjadi…sebuah tempat yang mulanya kukira syurga untukku. Garis yang memperkenalkan aku pada tempat itu. Dia yang pertama kali mengajak aku berkenalan dengan yang namanya ganja, sabu-sabu, ekstasi, minuman beralkohol, merokok, dan juga seks. Dan sekarang…aku menyaksikan diriku berada di diskotik itu bersama Garis, Yuris, Dara, Anton, dan Mika beberapa jam lalu. Ah, tidak, mungkin beberapa hari yang lalu atau sebulan yang lalu. Ah, aku tak tahu pasti. Yang jelas…aku sudah berada di tempat yang gelap tadi tak lama setelah pesta itu, setidaknya hal itulah yang kuingat.