Rabu, 18 Januari 2012

Please Stop The Game!


“Please stop the game!!!” kuteriaki langit yang seolah memiliki salah.
“Please stop the game!!! Please help me!!!” pintaku lagi dalam kemarahan yang sangat.
“I beg you! I beg you!! I beg you!!!” aku semakin meninggikan suaraku.
“Aku mohon!!! Aku mohon hentikan permainan ini!!!” kata-kata selanjutnya keluar begitu saja di tengah-tengah tangisanku. Aku lantas terdiam. Kupandangi langit yang seolah hanya lukisan di mata yang penuh dengan air ini. Aku masih menangis keras untuk beberapa saat, tetapi kemudian tangisan itu semakin lama semakin lemah. Saat hampir usai dan perasaanku mulai tenang, terlintas lagi semua hal yang pernah terjadi. Sesuatu dalam diriku pun tergetar kembali. Tubuhku mulai merasa lemas. Kurasa, tenagaku sudah mulai terkuras. Dan lagi-lagi, kristal-kristal bening di pipiku...mengalir...
“Aku mohon...padamu...” terisak pilu...aku, terisak pilu. Kujatuhkan diriku. Lututku sungguh tak mampu lagi menahan beban tubuh ini. Seolah dendam, kujajaki langit biru di hadapanku. “Kumohon...hentikan...game-nya...”
^^^
“Siapa?” tanyaku entah ke siapa.
“Siapa?” kutengok sana sini, tapi tak ada satupun orang yang kutemukan mencurigakan di sekitarku. Lalu lalang orang yang sibuk dengan pola masing-masing, jelas memberiku sinyal bahwa bukan aku fokus mereka. Jelas menampakkan bahwa bukan aku objek mereka.
“Di mana? Apa? Siapa? Kenapa?” kucoba melacak sesuatu itu. Sungguh, pagi itu aku merasa aneh. Aku merasakan keberadaan seseorang yang sedang mengawasiku. Namun tindakan orang ini tidak memberiku perasaan awas atau siaga atau semacamnya. Malah, aku merasa sangat nyaman. Aku seperti...dihargai...disayangi...tapi siapa? Apa? Dimana? Dan kenapa?
“Zika!” seseorang terdengar menyapaku dari jauh.

Selasa, 17 Januari 2012

Animal Communicator

[oleh ArineYuki AFz]

Prologue
“Lucky, ayo berdiri!” pinta seorang anak laki-laki yang sedang bermain di taman. Tak jauh di depannya ada seekor anjing yang sedang bersantai sambil memandang sekitarnya. Saat anak laki-laki itu berkata seperti tadi, anjing itu terbangun dari posisinya.
“Lucky, berlari kemari!” dalam satu perintah, anjing itu berlari ke arah si anak laki-laki.
“Good, Lucky! Anjing pintar...aku sayang padamu! Iiihhh...!” penuh sayang, dia memeluk si anjing. Meski sendiri dan tak punya teman, si anak laki-laki itu tampak sangat bahagia. Ia seperti asyik bercengkrama dengan si anjing.
“Shiki, apa yang sedang kamu perhatikan?” seorang wanita berumur sekitar 30-an tiba-tiba menegur.
Anak laki-laki yang ditegur itu lantas menoleh.
“Ibu?”
Wanita itu tersenyum, “Apa yang sedang kamu perhatikan, Nak? Ibu memanggilmu dari tadi loh...! Ibu memanggilmu berkali-kali tapi kamu tidak juga menoleh. Ada apa?”.
Shiki hanya menatap ibunya agak lama. Lalu, tanpa menyahut, ia menoleh kembali ke depan. Wajahnya terlihat sangat serius. Sang ibu sampai merasa terabaikan. Hampir saja ia menarik Shiki, tetapi ia tiba-tiba disadarkan oleh sesuatu. Ditariknya kembali tangan kanannya yang hampir menggapai lengan Shiki. Ia lantas menatap wajah putra kecilnya itu.
“Kadang anak memang tidak bisa mengungkapkan apa keinginannya. Sebagai ibu, kamu memerlukan kesabaran penuh untuk mencari tahu sendiri apa yang ada di pikiran anakmu yang pendiam. Cobalah perhatikan gerak tubuh, ekspresi wajah, dan pandangan matanya lalu cobalah menempatkan dirimu sebagai dirinya. Kita orang dewasa pernah menjadi anak kecil, aku yakin kamu akan bisa menemukan apa yang sedang anakmu pikirkan. Kamu harus ingat, anak kecil itu memiliki imajinasi yang tinggi. Anak-anak selalu penuh dengan rasa ingin tahu. Anak-anak juga selalu ingin mencoba apapun yang mereka lihat. Saat mereka menginginkan sesuatu, kamu harus menjelaskan dengan seksama apakah kamu menginjinkan mereka melakukan sesuatu atau tidak. Dan ingat, jangan sampai kamu tidak menjelaskan apapun karena tidak adanya penjelasan akan membuat anak salah melakukan sebuah tindakan...atau yang biasa kita sebut sebagai...sebuah kenakalan.” Tergiang kembali di benaknya penjelasan sahabat dekatnya yang seorang psikolog tadi, sewaktu konsultasi di ruangannya.