[Terinspirasi dari para
admin di page Indonesian Vampire Knight. Nama tokoh diambil dari nama
chara buatan admin-admin di page tersebut dengan tujuan untuk
mengabadikan nama mereka sehingga novel ini masih akan terus mengalami
perbaikan. Novel ini adalah sebuah hadiah untuk mereka yang kusayangi di
page itu. Adapun nama lainnya akan dimasukkan di novel berikutnya.
Jadi, terima kasih sudah mau membaca. Mohon beri komentar apapun untuk
meningkatkan kualitas novel ini. salam ---ArineYuki Afz---]
Epilog
Sara : aku lelah...aku merasa lelah dengan semua yang kualami...
Ichiru : kenapa bisa begitu? Sara-chan, kuharap kamu tidak berpikir yang aneh-aneh.
Sara : memang tidak, Ichiru. Hanya saja...
Kotak chating itu terdiam. Tidak ada lanjutan kata-kata dari si pemilik nama Ichiru. Sara mencoba menunggu, tapi dia tidak punya cukup kesabaran untuk itu terlalu lama.
Ichiru : Sara! Sara-chan, kau sedang apa?
Masih tidak ada jawaban.
Ichiru : Sara!!
Ichiru mencoba memanggilnya lagi. Ditatapnya layar komputer itu dengan perasaan yang kesal sekaligus resah. Jemarinya lalu kembali bergerak ke arah keyboard. Namun, belum lagi menyentuh salahsatu huruf, ia menghentikannya di udara. Sebuah balasan muncul sebelum akhirnya titik hijau tanda orang di seberang masih aktif akhirnya menghilang.
Sara : Maafkan aku, Ichiru. Sayonara...
Kalimat itulah yang muncul. Ya, hanya ada kalimat itu, sebelum akhirnya kontak mereka berakhir. Brak!!! Ichiru lantas memukul meja komputernya dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Wajahnya memerah saking kesalnya ia. Lalu keningnya mengerut saking terlukanya ia. Rambut lurus hitam pekatnya yang sudah memanjang lantas jatuh ke arah depan dan menutupi ekspresinya. Setetes demi setetes airmata jatuh dan hampir mengenai keyboard komputer. Ichiru mulai menangis, terdengar dalam dan pilu.
“Sara...chan...” ucapnya, samar...
----ArineYuki AFz---
Soul of Souls
“Kemana dia? Dia terlambat lagi. Sudah jam segini, harusnya kita mulai dari tadi.” Ngomel Akihiro, wakil kapten tim andalan SMA 1 Maros.
“Tumben kamu mengomentarinya.” Ucap Arya yang sedang berdiri sambil bersandar di tiang net setelah menyelesaikan tugasnya memasang jaring. Ia melipat kedua lengannya di depan dada dan menatap sinis sang kapten. “Bukannya dia kapten kesayanganmu? Apa kau sudah tidak memihak padanya?”
Akihiro terdiam.
“Ah jangan-jangan dia mengundurkan diri ya? Lari mungkin, darimu...wakil kapten...”
“Diam kau!” teriak Akihiro, memotong ucapan Arya yang sepertinya belum selesai. Sang kapten terlihat sangat kesal, lebih kesal dari yang tadi. Wajahnya tahu-tahu memerah. Matanya menoleh ke arah Arya dan menatapnya nanar.
Ivan, Trias, Zeus dan Akira, rekan satu tim mereka terlihat sedikit terkejut dengan ekpresi yang baru saja diperlihatkan Akihiro. Mereka menoleh ke arah keduanya secara bergantian, mencoba memastikan apa yang baru saja terjadi. Ivan yang paling junior karena baru saja bergabung pun bahkan menunjukkan rasa segannya. Namun tampaknya berbeda dengan Leon yang dijadikan tameng oleh Ivan, pemuda itu kelihatan tenang sekali. Ia memajui sang kapten.
“Akihiro, tenanglah...” pintanya meletakkan telapak tangan kanannya di bahu kiri pemuda itu.
“Minggir, Leon! Aku memang punya urusan dengan dia, jadi jangan halangi aku!” sahutnya dengan suara yang lain dari biasanya.
“Wah wah wah...ini sebenarnya ada apa sih? Mereka memang sudah menjadi hal yang bisa jika bertengkar, tapi...baru kali ini aku melihat Akihiro naik pitam. Dia itu kenapa ya?” komentar Akira.
“Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan mereka.” Kata Zeus. Ia melanjutkan aktivitasnya menganalisa sesuatu di notebook.
“Lagi-lagi bawa notebook. Notebook itu belahan jiwamu ya, Zeus? Apa itu pacarmu sampai-sampai kami tidak pernah melihatmu jalan sama satu cewek pun di sekolahan ini?” tanya Trias. Ia berjalan mendekati Zeus dan mengintip apa yang sedang dikerjakannya. Namun, belum lagi ia sempat melihat jelas apa yang sedang ada di layar, Zeus menutup notebooknya secara mengejutkan.
Ia berdiri dan memperbaiki kacamatanya, “Dan sebaiknya kau tidak mengganggu urusanku atau aku akan mengacaukan jadwal pertandingan Volly kalian.” Ancamnya sambil berdiri dan menghadapi Trias. Suaranya terdengar dingin dan sinis.
“Wew...serrem...” Trias bersiul kecil. Ia kembali ke tempatnya semula, di bangku yang terletak di bawah pohon. “Well...sebenarnya Zeus itu cukup manis. Postur tubuhnya yang tinggi dan tidak terlalu kurus juga cocok menjadi pemain. Tapi kacamata dan sikapnya yang buruk itu yang bikin aneh. Payah...”
“Setidaknya dia mau jadi menejer club kita. Bukankah berkat dia, pamor tim kita sekarang ditakuti sekolah lain?”
Trias yang baru saja duduk mengangguk-angguk.
“Eh?” tiba-tiba ia tersadar. “Joe???” teriakannya yang tiba-tiba, seketika menyedot perhatian seluruh anggota club basket yang saat itu ada di lapangan. “Sejak kapan kau duduk di sini???”
“Baru saja kok.” Jawabnya cepat. Ia terlihat santai sambil menatap ke arah lapangan tempat Akihiro, Leon dan Arya berdiri. Kedua pahanya disilangkan dengan paha kiri yang berada di atas. Tangan kanannya bertopang di sandaran kursi, berada di belakang Trias. Mereka menjadi terlihat seperti sepasang kekasih. Trias menyadarinya, maka dari itu si cowok berkulit putih dan berwajah manis itu tersipu panik.
“Huwaaa...!!!” Trias jatuh dari bangku itu.
Joe lantas tertawa, dia sungguh senang menggoda cowok yang satu itu. Tapi bukan berarti dia cowok penyuka sesama jenis loh. Soalnya dia masih normal. Kabarnya, banyak gadis sekolahan mereka yang pernah ‘dimakan’ olehnya. Benar tidaknya kata ‘makan’ itu, memang belum pernah ditemukan langsung oleh rekan satu tim Volly Joe. Soalnya, itu sering mereka dengar saja dari anggota club mereka atau para gadis di sekolahan mereka. Adapula cerita dari para gadis di luar sekolahan mereka. Mau bagaimana lagi, si Joe memang bintangnya tim hebat mereka sih, jelas banyak cerita soal dia. Dan berkat dia, club mereka tidak sepi dari penonton baik saat hanya latihan maupun bertanding.
“Soalnya dia cerdas, pinter, atletis, dan ganteng lagi! Hehehe...” itu kata para gadis yang datang menonton tim mereka dan meramaikan club mereka.
Soal ‘tim’ dan ‘club’ sendiri, mungkin ini memberikan sedikit tanda tanya. Sebenarnya ada perbedaan di dua kata ini, tim yang berarti kelompok kecil yang terdiri dari 7 cowok yang memiliki kemampuan bermain volly di atas para pemain lain dan club yang berarti club volly SMA 1 Maros yang menaungi berdirinya tim ini. Orang-orang menyebut ketujuh cowok ini, D’Anchors. Ya, karena itulah nama tim mereka. Anchor yang berarti sebuah jangkar yang dipakai kapal untuk berhenti, yang mereka harapkan akan menahan kemenangan tim manapun. Namun, pada dasarnya bukan karena anchor yang memiliki arti jangkar serta sifatnya. Mereka memiliki tujuan untuk berlabuh menemukan sesuatu yang akan semakin menguatkan dan mengeratkan mereka. Juga, anchor yang berasal dari kata ‘anemic chore’, yang berarti ‘tugas yang menderita kekurangan darah’ secara harfiah.
Tentang volly? Sebenarnya tidak sepenuhnya tentang volly. Volly hanya kelebihan sampingan mereka. Ini tentang ‘kemampuan otak’ mereka, dimana mereka bertujuh unggul dalam satu pelajaran dan sering mempersembahkan piala, medali, atau sertifikat untuk sekolah mereka. Meski pandai di berbeda pelajaran, mereka selalu terlihat bersama dan disegani serta menjadi idola. Wajah mereka juga lumayan, beberapa.
Leon maju duluan sebelum yang lain, “Joe, darimana saja kamu? Kamu sadar kan kalau kamu terlambat? Sebagai kapten, tidak seharusnya kamu...”
“Cukup, Leon, aku tahu.” Potongnya dengan menggerakkan tangan kanannya, mendorong tubuh pemuda yang selalu jadi penengah itu. Wajahnya langsung mengeras dan menunjukkan wajah pemimpin yang sangat berkompeten. “Semua bersiap! Latihan akan kita mulai dalam...” ia melihat jamnya. “Sekarang!”
“T-Tapi anda belum menukar pakaian, k-kapten!” Ivan memberanikan diri menegur.
Joe lantas menoleh padanya. Tatapan mata yang tidak biasa ditemui Ivan membuat dirinya memucat.
“M-maaf...”
Joe hanya berlalu. Sedangkan seseorang membuatnya terkejut dengan meletakkan tangan di bahu kirinya, “Itu sudah biasa baginya. Lain waktu jangan kau ulangi atau kau akan...” ia mendekatkan wajahnya ke Ivan dengan ekpresi seram, “Mati...”
Deg!!! Wajah Ivan seketika semakin memucat, sementara Akira ngakak dengan tangannya yang masih berada di bahu Ivan.
Buk!!!
“Akira!!!”
Cowok itu ditimpuk bola volly oleh sang kapten.
“Joe, siang ini jangan lupa mengajar Kimia di clubmu! Hari ini adalah jadwalmu!” Zeus si meneger club sekaligus menejer dan anggota D’Anchor itu berteriak mengingatkan. Dan hal ini membuat Joe mendesah.
---ArineYuki AFz---
“Hhh...akhirnya, aku bisa pulang ke rumah...” ucapnya dengan perasaan yang lega, begitu ia duduk di salah satu kursi di dalam bus sekolah. Sebenarnya dia punya motor, hanya saja mogok sewaktu ke sekolah. Motor itu sekarang ada di bengkel dan baru bisa diambil besok pagi. Itulah yang menjelaskan keterlambatannya datang latihan volly pagi ini. “Lelah...ada bagusnya naik bus. Aku dapat...” ia menyandarkan kepalanya ke jendela, “Istirahat...sejenak...”
“Aku sungguh minta maaf, Mao. Aku sungguh tidak bermaksud mengabaikanmu sebagai sahabatku. Aku juga jadi jarang menemuimu bukan karena aku benci padamu. Ini karena aku benar-benar...kau tahu...aktif di sebuah page anime yang sangat menyenangkan! Kau ingat komik Vampire Knight karya Hino Matsuri yang waktu itu kupinjam darimu? Aku menemukan page roleplay anime ini dan page itu sangat menyenangkan! Orang-orang di dalamnya ramah-ramah dan sudah seperti keluarga. Padahal kami semua datang dari daerah yang berbeda dan kebanyakan tidak pernah bertemu sebelumnya loh!” sebuah suara yang sangat berisik tiba-tiba saja membuat kening si pemuda mengerut berlipat-lipat.
Pemuda itu terpaksa membuka mata. Ditegakkannya kepalanya, ia berdecak kesal. Tetapi si pemilik suara heboh itu tetap saja berceloteh. Ia lantas menarik nafas dalam-dalam, mencoba menahan amarah.
“Vampire Knight? Komik yang bercerita tentang sebuah sekolah yang memiliki murid kelas pagi dan kelas malam itu? Yang kelas malamnya itu adalah vampir kan? Yang ada cowok cool bernama Ichiru itu?” cewek yang satunya menimpali.
“Kok jadi Ichiru sih? Yang keren itu Zero tauk!” si gadis yang tadi mengganggu terlihat cemberut.
Si pemuda, Joe, terus memperhatikan keduanya. Ia menarik nafas lagi. Dicobanya mengirim sinyal si bintang Joe kepada mereka, tetapi keduanya terlihat tidak menyadarinya. Joe lantas berdehem dan itu baru membuat mereka menoleh, namun sayangnya mereka kembali bercengkrama membahas Vampire Knight dan page itu.
“Ya ampun...” Joe menutup wajahnya dengan satu tangan saking kesalnya. “Apa sih yang mereka bahas itu? Asyik sekali mereka, sampai-sampai tidak perduli dengan...waktu istirahat sang idola sepertiku ini...padahal mereka di sekolah yang sama denganku. Apa mereka tidak mengenalku?” gerutu Joe.
Ia ingin menegur mereka, tapi diurungkannya. Akhirnya ia hanya merebahkan kembali kepalanya ke jendela dan memandang keluar. Sementara, telinganya mau tidak mau harus mendengarkan kedua gadis tersebut.
---ArineYuki AFz---
Tok tok tok! Pintu diketuk orang yang diluar. Orang itu adalah seorang pemuda berambut hitam pekat berbelah samping yang tinggi. Dia terlihat sangat lelah dengan membuat tubuhnya menempel di pintu, berat tubuhnya ditumpahkan ke pintu itu.
Tok tok tok! Mengetuk lagi, kali ini dengan tak sabar.
“Iyaaa...! Sabaaaar...! Siapa sih?” terdengar sahutan suara perempuan, terdengar masih muda dan bersemangat. Semangat karena kesal diganggu sepertinya.
“Riiya...! Cepetaaann...!” teriak pemuda itu, Joe.
Bruk! Tubuh Joe menabrak pintu hingga berbunyi ketika ia ingin masuk melalui salah satu daun pintu yang dibuka. Gadis yang membuka pintu jelas kaget.
“Joe!!!” ia berusaha menangkap tubuh Joe. “Joe, kau kenapa?”
Joe yang berada di pelukan Riiya segera membuka mata, “Aku lelah mendengarkan ocehan dua cewek berisik di bus sekolah tadi, de’...” ujarnya.
“Ng? Apa?” Riiya tak mengerti. Ia menatap kakaknya beberapa saat, mencoba mencerna kata-katanya tadi. Dan...
Buk!!! Riiya menjatuhkan tubuh Joe.
“Kakak apa-apan sih! Ada-ada aja deh!” umpatnya. “Menyebalkan!” Riiya meninggalkan sang kakak.
“Riiya...jangan tinggalin kakak...” Joe berusaha memanggilnya, bermaksud meminta bantuan atas tubuhnya yang sedang tak bertenaga. Ia terpaksa menyeret tubuhnya seperti sedang merayap. Tangannya berusaha menggapai-gapai dan memanggil-manggil, tapi Riiya terus berjalan meninggalkanya. Wajah Joe lantas memucat. Ia menelungkupkan wajahnya dan menempelkan dahinya ke lantai, menangisi kecuekan sang adik.
“Tidak usah lebay deh...” itu Riiya yang sudah berdiri di samping kepalanya.
“Siapa, Riiya?” teriak ibu dari dapur.
“Si Lebay, Mah!” sahut Riiya.
“A!!! Riiya...kau kejam sekali pada kakakmu ini...”
“Nggak dengar...” Riiya meninggalkannya lagi dengan cuek.
---ArineYuki AFz---
“Kak Joe, ini aku Riiya bawa makan malam kakak! Boleh aku masuk?” Joe baru saja usai mandi ketika tahu-tahu seseorang mengetuk pintu kamar mandinya.
Joe yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk di depan jendela sambil menatap keluar, tersadar. Ia pun berjalan ke arah pintu dan membukanya untuk sang adik. Pakaiannya telah berganti menjadi pakaian rumah, sebuah kaos oblong tanpa lengan berwarna hitam dan celana yang pendeknya selutut. Itu tampak selaras dengan rambut hitam dan mata hitam pekatnya.
“Kakak ini merepotkanku saja. Aku kan lagi asyik baca komik. Malah disuruh mama bawakan kakak makanan. Kakak sayang tidak sih sama aku?” Riiya menggerutu. Diletakkan nampan berisi makan malam kakaknya di meja belajar. Di sendiri duduk di kursi belajar sang kakak dan kembali melanjutkan bacaannya.
“Maaf deh...maaf...” ucap sang kakak sambil membuka laci meja belajarnya.
Rupanya ia mengambil Silverqueen untuk diserahkan pada Riiya sebagai sogokan. Riiya tentu menerimanya dengan gembira, soalnya itu faforitnya. Ia meletakkan bacaannya di atas meja dan mulai membuka coklat itu. Saat itulah, Joe melihat apa yang sedang dibaca sang adik.
“Vampire Knight?” gumamnya tak jelas.
“Apa?” Riiya jelas spontan bertanya.
“Ini rupanya komik yang tadi asyik dibicarakan si gadis-gados berisik tadi...” ia mengambil komik itu dan membaca belakangnya.
“Hati-hati! Tanda bacaku bisa hi...lang...”
Telat! Joe sudah mengangkatnya dan menghilangkan tanda itu. Tadi, sewaktu Riiya meletakkan komik itu, dia mengambil salahsatu buku sang kakak dan menjadikan sampulnya sebagai pembatas. Dan Joe melepasnya tanpa tahu apa fungsinya.
“Iiiihh...kak Joe ini apa-apaan sih!!! Gara-gara kakak, aku jadi nggak tahu sampai mana aku sudah membacanya kan!” Riiya marah-marah. Ia mencoba merampas buku itu, tetapi Joe cekatan menghindar. Riiya sedikit terkejut dengan sikapnya itu. Soalnya, biasanya Joe akan mengembalikannya dengan penuh ekspresi sayang jika sang adik sudah marah. Namun kali ini, Joe tidak melakukan kebiasaannya. Dia malah asyik memperhatikan komik itu.
“Menarik. Apa kau juga suka sama komik ini, adik? Kedua gadis di bus tadi, mungkin saking sukanya mereka sama komik ini, mereka terus saja membahasnya hingga aku turun. Dan mungkin saat akan berpisah pun, mereka masih tetap membahas komik ini loh.” Tutur sang kakak dengan ekspresi serius.
Riiya tak menjawab beberapa saat. Ditatapnya wajah itu baik-baik dan diingatnya ekpresi apa itu. Ya, tidak salah lagi, itu memang ekspresi baru yang ditemukannya dari sang kakak. Dia pun maklum. Diambilnya komik itu sebelum menyahut, “Tentu saja aku suka. Aku bahkan sangat suka komik ini. Ceritanya menarik. Gambarnya oke. Tokohnya cool. Apalagi si Ichiru, dia setia banget. Ah andai aku punya saudara atau pacar yang sesetia Ichiru, aku pasti akan menjadi gadis paling bahagia sedunia...!”
Riiya berteriak senang. Ia bahkan berdiri dari tempatnya dan beranjak ke tempat tidur kakanya dan berbaring di sana. Diambilnya bantal guling dan ditutupinya wajahnya dengan itu. Remaja berusia 14 tahun itu tampak seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
Joe melihat semuanya tanpa berkedip sedikit pun. Baru setelah sang adik bersembunyi di balik bantal, ia menegdip-ngedipkan mata seolah menyesuaikan diri dengan cahaya yang muncul tiba-tiba. Ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sepertinya sedikit bingung/ joe lantas berjalan mendekati sang adik dan menyingkirkan bantal yang menutuoi wajah sang adik.
“Pagenya bahkan sudah ada loh, kak. Page itu page roleplay. Aku bahkan sudah menjadi admin di sana dan aku bermain seperti benar-benar jadi tokoh dalam anime aslinya. Teman-teman di sana ramah-ramah. Pemiliknya baik dan selalu ngasi kami masukan-masukan. Pokoknya, menyenangkan sekali! Bla bla bla...”
Riiya menjelaskan panjang lebar. Ia tampak sangat bersemangat dan ceria. Wajahnya bahkan lebih berseri dari biasanya. Meski banyak kalimat yang Riiya ulang sehingga cerita itu terdengar sambung menyambung, Joe tetap saja menjadi pendengar yang setia yang baik. Joe tidak melewatkan sedikit pun, meski perhatiannya tertuju pula pada wajah ceria adik yang amat disayanginya itu. Joe senang melihat adiknya yang bahagia, sekaligus ia merasa...cemburu...
Mungkin, ini sebabnya Riiya belakangan ini jarang ngobrol denganku. Waktunya menjadi berkurang untuk kami. Dia juga menjadi sedikit cuek sama aku, walaupun ia lebih bahagia dari biasanya...pikirnya dalam hati. Cowok ini memang sister complex.
“Riiya, kakak juga mau dong, gabung di page itu. Kakak juga mau jadi adminnya.” Tahu-tahu, pikirannya itu secara refleks membuatnya mengucapkan kalimat-kalimat ajaib tersebut.
Riiya melotot beberapa saat. Mata itu tadinya memancarkan keterkejutan. Namun lama-lama berubah bercahaya,terharu.
“Sungguh? Kakak benar-benar mau jadi admin? Kebetulan, Creator-sama meminta kami mencari calon admin. Kakak mau jadi admin chara apa?” sekejap, Riiya menjadi adik Joe yang biasanya.
“Chara Ichiru!” sahutnya mantap.
---ArineYuki AFz---
Chara Ichiru. Chara merupakan singkatan dari character yang berarti tokoh. Ini adalah istilah yang biasa dipakai di dunia page roleplay. Roleplay sendiri merupakan permainan lakon/sandiwara (jika boleh disebut demikian) dimana kita memilih sebuah chara untuk diperankan lalu menulis status-status yang sesuai dengan sifat chara asli yang ada di anime atau movie atau komiknya. Ichiru adalah salahsatu chara dalam komik jepang Vampire Knight.
Ichiru merupakan adik kembar dari seorang pemburu vampir bernama Zero, si tokoh utama. Seharusnya, Ichiru ini juga menjadi seorang pemburu vampir. Tapi tubuhnya lemah, berbeda dari Zero. Suatu hari, ia mendengar fakta bahwa dia benar-benar tidak dapat menjadi seorang pemburu vampir dan hanya Zero yang terpilih. Itu membuatnya keluar dari rumah dan bertemu seorang vampir darah murni bernama Shizuka. Ichiru mengadakan suatu perjanjian dengan Shizuka dan membiarkan gadis yang pacarnya kebetulan terbunuh oleh orangtua Ichiru itu membalas dendam ke keluarganya sendiri. Ichiru meninggalkan Zero sendirian sebagai seorang vampir monster dan dia sendiri ikut Shizuka. Ichiru setia sekali pada Shizuka. Dia jahat terhadap saudaranya yang bernama Zero itu, meski begitu, dia tetap memiliki rasa sayang terhadap Zero. Karena kesetiaannya itu dan kemiripannya dengan si tokoh utama Zero, banyak pula penggemar anime yang nge-fans sama tokoh ini. Cewek di bus suka tokoh ini dan adiknya Riiya pun suka tokoh ini. Nama tokoh ini banyak didengarnya hari ini. Maka dari itu, Joe memilih chara Ichiru ini dengan mantap tanpa berpikir panjang.
---ArineYuki Afz---
New Side of Sides
Sudah seminggu sejak Riiya mengajarinya tentang bagaimana bergabung di Indonesian Vampire Knight. Awalnya cukup sulit untuk menyesuaikan diri, apalagi saat menjadi admin. Hati Joe cukup berdebar saat ia berada di tahap pertanyaan seputar chara yang akan ia perankan. Untung ada Riiya yang mau mengajarinya. Saat sudah jadi admin dan menggunakan nama page, kalau menulis status tidak boleh lupa nama chara yang ia perankan atau sang Creator akan memarahinya. Terkadang orang itu memang bawel, Joe sering kali dibuat kesal jika dia sudah seperti itu. Terus, aksi dan perkataan harus dibedakan. Aksi harus ditulis dalam dua simbol yang sama, kadang simbol bintang (*) kadang simbil garis lurus (-). Mereka juga sering diminta membuat roleplay umum dimana yang bertugas harus membuat sebuah alur cerita yang percakapannya disambung oleh para admin. Joe sering kewalahan soal roleplay umum itu, imajinasinya tidak cukup untuk itu sih. Tapi lama-lama semua menyenangkan loh. Joe mulai menikmatinya. Semakin lama ia semakin menyadari betapa akrabnya para admin dan member di page itu.
Admin adalah singkatan dari administrator yang berarti pengurus atau pengelola. Mereka adalah orang-orang yang memakai nama page. Misalnya nama page itu Indonesian Vampire Knight, yang punya tuh memang satu orang. Akan tetapi, pengelolanya bukan cuma ada si pemilik atau pembuat page yang sering disebut Creator. Ada banyak pengelola di dalamnya sehingga masing masing dari mereka harus mencantumkan nama saat membuat status. Di page itu, adapula orang-orang yang tidak menjadi admin. Mereka tidak memakai nama Indonesian Vampire Knight. Mereka disebut Member, semua orang yang sudah me-like page itulah yang termasuk dalam istilah ini. Sedangkan Page adalah istilah yang dipakai untuk sebuah halaman dari facebook. Page ini tidak berdiri sendiri dan tidak perlu memakai email khusus untuk masuk seperti jika mau masuk profil facebook kita sendiri. Karena, page ini dapat dimasuki dari profil kita, cukup dengan men-search-nya saja. Dan bila menjadi admin, secara otomatis kita akan memakai nama page itu.
Itulah penjelasan singkat seputar page anime di dunia maya bernama facebook. Seperti seorang artis, para admin memainkan chara mereka sesuai dengan sifat asli chara dari komik atau animenya. Mereka dapat menulis status apapun meski itu lebay dan tidak perlu merasa cemas dicemooh orang. Inilah bagian menyenangkan bagi Joe. Secara, dia kan sister complex yang suka lebay tapi tidak mau jika ada temannya yang tahu.
“Kalau di luar rumah, mana pernah dia berlagak manja atau memanjakan aku. Dia itu selalu berlagak cool di luar rumah. Kalau bertemu aku, disapa sih iya, dikhawatirin sih iya, tapi dianya tetap cuek. Pokoknya beda 180 derajat deh dari sikapnya ke aku di rumah!” itu kata Riiya jika ditanya soal sang kakak di luar rumah. “Itu sisi lainnya kakak. Yang lebay-nya dia ke aku itu loh. Ini dia sembunyikan banget. Dia tidak mau orang sampai tahu. Padahal, kalau orang tahu, kupikir mereka akan semakin kagum sama kakak. Yah, mau bagaimana lagi, dia katanya bintang tertinggi di sekolahannya sih! Awas saja kalau aku sampai bisa masuk ke sekolahnya kakak. Hm...gimana jadinya ya? Hohohoho...” Riiya tertawa ala cewek devil.
Dan sekarang, sisi lainnya bertambah satu...
---ArineYuki AFz---
“Loss!” teriak Joe sambil tetap membungkuk. Mendengar itu, pemain di belakangnya segera maju dan mendapatkan bola tersebut. Dia mengopernya ke sebelah.
“Tahan!” teriaknya pada pemain yang di dekat nett. Bola kembali berhasil dikembalikan.
“Ivan, smash!”
Tak!!! Bola jatuh di kandang lawan tanpa mampu dibalikkan ke arah Joe Cs. Yosh! Dengan begini, perhitungan selesai.
“Pemenangnya adalah...D’Anchors dari SMA Negeri 1 Maros dengan skor 24-23!” teriak sang wasit setelah meniup peluit panjang.
Seketika, podium volly itu bergema. Orang-orang pendukung Joe Cs. bersorak senang. Bendera kebanggaan D’Anchors yang ada gambar jangkarnya berkibar di udara. Demikian pula bendera club volly mereka dan bendera sekolah mereka. Joe lantas mengangkat kepalan tangannya ke udara, membuat penggemarnya semakin bersorak. Anggota-anggotanya lalu mengikuti beberapa saat kemudian dan semakin membuat podium itu penuh oleh teriakan semangat. Mereka lantas kembali ke ruang ganti.
“Hua...kali ini aku sangat lelah!” ucap Trias begitu mereka masuk ruang ganti. Ia lantas mengambil tempat di bangku dan langsung merebahkan tubuhnya.
“Hoi hoi...Trias, aku juga mau duduk. Aku juga lelah. Bangun! Bangun!” Akira menepuk-nepuk lengan Trias.
Seketika Trias menampakkan wajah cemberutnya. Ia bangkit dengan malasnya sambil terus memberikan wajah cemburutnya pada akira. Yang lain langsung menuju lokernya dan mengambil air minum atau handuk atau pakaian ganti. Tapi tidak dengan Joe, ia justru mengambil Blackberry-nya dan mengambil tempat di jendela.
Akira melihatnya duduk di sana tanpa sengaja, soalnya tepat berada di belakang Trias. Keningnya lantas mengerut. Diperhatikannya Joe dengan seksama tanpa berkedip.
“Kau lihat apa, Akira?” tegur Trias yang merasa diabaikan.
Yang ditegur tidak langsung menyahut. Ia malah menunjuk-nunjuk dengan dagunya, seperti memberi kode agar Trias melihat ke belakang. Trias tidak serta merta paham. Arya yang melihat juga melihat kode-an itu yang langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Akira. Trias mengikuti setelah menyadarinya dari Arya. Akihiro yang sedari tadi mengawasi Arya juga menoleh. Leon yang mencemaskan keduanya menoleh selanjutnya. ivan yang sedang membawa baju ganti hanya menoleh sebentar, lalu dia masuk ke kamar mandi yang ada dalam ruang itu.
Leon lantas menjadi pusat perhatian selanjutnya. ia ditatap aneh oleh si kawan-kawan. Awalnya Leon membalas dengan wajah heran, namun akhirnya dia mendesah pasrah. Ya, itu tanda bahwa mereka ingin agar Leon memajui Joe. Soalnya itulah Leon yang selama ini mereka kenal, si penengah.
Joe sebetulnya adalah kawan yang ramah dan bersahabat dengan orang lain. Jika ada yang datang padanya, dia selalu menyambut mereka dengan baik. Akan tetapi, jika biasanya orang yang terdekat dengan sang idola itulah yang paling tahu tentang si sang idola, mereka justru berada di atmosfir yang berbeda. Mereka memang teman terdekat si Joe. Saking dekatnya, mereka sadar bahwa sikap yang Joe tunjukkan itu ke mereka itu berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Joe ke anak-anak di luar tim mereka. Joe menjadi cowok yang sulit ditebak di hadapan mereka, justru karena Joe menunjukkan banyak ekspresi. Selain itu, tidak satupun dari mereka yang tampaknya tahu betul soal Joe ‘yang detail’ atau Joe yang asli.
“Joe, tidak ganti baju dulu? Kita harus kembali ke sekolah lagi kan?” sapa Leon sambil memberikan minum ke Joe.
Joe menyingkirkan perhatiannya dari handphone. Ia menoleh pada wajah Leon. Lalu melihat botol air mineral yang disodorkan Leon. Ia kemudian mengambil mineral itu sambil kembali memperhatikan layar, tanpa menyahut sedikit pun.
Leon merasa diabaikan, lebih dari biasanya. Namun, walau dia sedikit gugup juga saat berhadapan dengan Joe, Leon tetap tidak mundur atau mengurungkan niatnya.
“Kau sedang apa? Kayaknya asyik banget? Sudah dapat pacar baru lagi?”
“Tidak.” Jawab Joe langsung.
“Lalu?”
“Semua segera bersiap! Kita kembali ke sekolah sepuluh menit lagi!” alih-alih menjawab, Joe justru berdiri dari tempatnya dan memberikan instruksi. Kontan saja Leon kagut, juga teman-temannya yang lain. Namun, tanpa banyak protes, mereka segera bergerak dari tempatnya untuk bersiap.
“Hari ini dia aneh atau hanya perasaanku saja?” Akira menyempatkan ngobrol dengan Akihiro yang tadi mengambil loker di sebelahnya.
Akihiro yang baru saja menutup lokernya menyahut, “Nggak ada urusannya denganku!”.
Arya lewat, “Ya, memang tidak ada urusannya denganmu. Tapi aku yakin kau pasti memikirkannya juga kan? Dan hatimu...” Arya tersenyum mengejek sambil menghadap Akihiro, “Tersenyum senang bukan?” sambungnya sambil meletakkan ujung jari telunjuknya di dada Akihiro.
“Diam kau!” hardiknya. “Dan singkirkan jari kotormu itu dari tubuhku!”
Dihalaunya tangan Arya, wajah Akihiro tampak kesal berlipat-lipat. Arya sendiri, bukannya membalas, dia justru tersenyum dibuat-buat. Ia kemudian berlalu dan itu membuat Akihiro lebih kesal lagi. Akihiro hendak menyalurkan amarahnya, tapi ditahan oleh Leon. Akihiro lantas hanya bisa memukul pintu lokernya untuk meluapkan amarahnya itu. Leon sendiri merasa...bersalah.
Tanpa disadari siapapun, kedua tangan Leon mengepal. Giginya terkatup kuat-kuat. Urat nadi di keningnya muncul ke permukaan. Telinganya memerah dan keningnya mengerut. Ia benar-benar merasa tidak tahan lagi. Leon, belakangan ini mulai merasakan ada yang tidak beres dengan tim mereka. Mulai ada keretakan di tubuh D’Anchor. Dia memang bukan pemimpin kelompok itu dan dia tidak mau jadi pemimpinnya. Namun, meski begitu, dia tetap sadar untuk mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap tim mereka. Karena baginya, timnya itu sangat berarti.
“Joe, sadarlah...cuma kamu harapan kita satu-satunya. Ada sesuatu yang buruk sedang menimpa tim kita! Kalau hal ini tidak segera diperbaiki, D’Anchors bisa hancur! Joe, aku rindu dengan D’Anchors lama...” katanya samar. “Ryuu, andai kamu masih di sini...”
“Leon.” Seseorang memegangi pundak kanan Leon. Leon tampak terkejut. Ia mengira itu Joe hingga wajahnya sedikit memucat. Saat menoleh, itu membuatnya lega. Pemuda itu tidak lain adalah Zeus.
Zeus memperbaiki kacamata tebalnya, “Leon, cepatlah bersiap!”.
Leon menatap Zeus lama, sebelum akhirnya menyahut dengan tampang lesu, “Baiklah...Zee...”
Ia menuju lokernya, mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi.
“Hm...”
---ArineYuki AFz---
Pukul 12.30 lebih, mereka telah tiba kembali ke sekolah. Mereka memakai Avanza Ivan yang memang selalu dibawa oleh pemuda itu sejak masuk SMA. Ivan sendiri adalah anak seorang pengusaha (atau adik seorang pengusaha ya?) ternama di kota itu. Dia satu-satunya anggota yang baru duduk di kelas satu, yang lain sudah kelas dua. Dia tergabung dalam D’Anchors sejak seminggu yang lalu. Sebenarnya dia pemuda yang agak kurang pede dan mudah dipengaruhi. Meski begitu, dia jago juga bermain volly dan cukup berkompeten di bidang matematika. Joe yang pertama kali menemukan dia. Ketika itu, Joe yang lagi jalan-jalan ke lapangan saat jam pelajaran karena lagi galau soal timnya, dikenalkan pada Ivan secara tak sengaja oleh sang guru.
Awalnya, Joe mengira akan mendapat teguran dari sang guru olahraga sekaligus pembina clubnya itu. Tidak tahunya, ia malah diminta membantu pak guru mengawasi permainan volly anak-anak kelas satu itu. Pak gurunya ada urusan di luar sebentar katanya dan dia yang akan memintakan izin untuknya ke guru yang sedang mengajar di kelasnya sendiri. Sebenarnya Joe sangat malas, apalagi dia sedang ada masalah. Tapi, ada salahsatu anak pemalu yang tiba-tiba menarik perhatiannya. Anak itu sering sekali dilihatnya belakangan ini. Terkadang, dia sendiri yang merasa dilihati oleh anak itu. Dan tak jarang, perasaannya sendiri yang membuatnya tertarik mengamati anak itu. Kali ini anak itu berada di sana, sedang dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya. Pemuda itu terlihat tidak nyaman. Joe menunggunya sejenak, hanya untuk tahu apakah dia berani melepaskan diri atau tidak. Tapi setelah tahu apa yang dilakukannya akan sia-sia, akhirnya Joe maju.
“Hei, kau yang di sana!” tunjuknya bak seorang guru.
Anak-anak kelas satu itu jelas kaget. Ivan merasa ada di situasi yang buruk hingga kali itu ia tiba-tiba mengharapkan dapat dilindungi oleh teman-temannya. Tapi sayang sekali, mereka semua justru menghindar dan meninggalkannya sendiri. Ivan yang gugup semakin panik. Takut-takut, ia menyahuti sang pengganti guru itu.
“Sa-saya, Kak? A-ada a-apa, Kak?”
“Giliranmu untuk main!” dengan gaya cuek, Joe melemparkan bola volly di tangannya secara tiba-tiba. Bola itu meluncur cepat dengan kecepatan tinggi menuju wajah Ivan.
Semua memandang ngeri saat bola itu mengarah ke arah Ivan. Beberapa cewek teman sekelas Ivan berteriak histeris, beberapa diantaranya bahkan menyembunyikan wajah di balik tubuh temannya atau tangannya sendiri. Mereka mengira, bola itu akan benar-benar menghantam wajah Ivan. Padahal, wajah Ivan kan...termasuk idola SMANSA Maros juga!
Tak!!! Eh? Apa itu? Suara apa itu?
Hampir dua per tiga dari teman sekelas Ivan bertanya-tanya, ingin tahu apa yang sudah terjadi. Bola volly itu sendiri sudah berada kembali di tangan Joe sedangkan Ivan terduduk di atas tanah, tampak terguncang.
“Ternyata benar...” gumam Joe. Dia lantas bergerak mendekati Ivan, “Bangun! Ayo masuk lapangan cepat dan perlihatkan permainanmu padaku!” paksanya.
“T-Tapi kenapa aku, Kak?”
Joe tidak menjawab. Agak kasar, dia membuat Ivan berdiri dan pergi ke lapangan. Dia sendiri berdiri di dekat net. Dia melempar bola itu sekali lagi ke arah Ivan. Namun, kali ini bola itu melengkung dengan garis pemotong 90 derajatnya mengarah ke atas.
Tadinya, beberapa teman-teman sekelas Ivan merasa sangsi bahwa Ivan dapat memukul bola itu. Namun rupanya mereka salah duga, Ivan yang selama ini tidak pernah mereka lihat bermain, justru sangat baik dalam mengontrol bola volly. Dengan sempurnah, dia melakukan front volly, overhead volly, jump volly, jump volley overhead, dan spike. Dia terlihat sangat bersemangat. Dia bahkan terlihat berbeda. Setelah bola pertama di lapangan menyentuh tangannya pertama kali, dia mulai terlihat lepas dan santai.
Sejak saat itu, Joe mulai memperhatikannya. Memberinya beberapa buku, artikel, atau apapun yang berhubungan dengan volly. Joe bahkan sering datang ke kelasnya dan membuat pamor Ivan semakin terangkat. Dua minggu kemudian, Joe memperkenalkan Ivan ke teman D’Anchorsnya sebagai anggota baru pengganti salahsatu anggota mereka yang akhirnya diikhlaskan pergi oleh Joe...kemarin...
Dia? Kenapa harus dia?
Atmosfir ruangan itu seketika membeku. Mereka semua terdiam. Ditatapnya Joe dan anggota barunya secara bergantian. Sungguh sulit dipercaya, baru sehari Joe mengiyakan anggota lama mereka pergi, dia sudah membawa penggantinya.
“Permisi...!” pintu club tiba-tiba terbuka.
Suasana hening tadi pecah. Seorang gadis yang baru masuk mengejutkan mereka. Membuat mereka lagi-lagi terdiam. Namun tentu tidak seperti suasana yang tadi. Kali ini mereka takjub...karena dikunjungi si gadis bintang idola bernama...Amu.
“Ah, Bebz, di sini kamu rupanya. Aku mencarimu kemana-mana tauk! Kau kan janji akan makan siang bersamaku hari ini. Gimana sih?” Amu cemberut.
“B-Bebz???” Trias dan Akira terkejut, mata mereka melotot. Keduanya lantas memandangi Joe karena sang bidadari itu juga sedang menatap ke arah tempat Joe dan Ivan berdiri.
“Joe, dia pacarmu???”
“Pantas kemarin dia asyik dengan hp-nya.” Arya ikutan terguncang.
Joe Cuma menggaruk-garuk kepala dan bersikap cuek.
“Joe, kau...” belum lagi Akihiro menyelesaikan kalimatnya, gadis itu tiba-tiba berlari ke arah keduanya.
“Sayang, ayo!” ucap gadis itu.
“I-Ivan???” sontak Leon, Akihiro dan sang kembaran Akira, Arya serta Trias berteriak kaget.
Lengkap sudah alasan Ivan diajak bergabung.
---ArineYuki AFz---
Prang!!!
“Kurang ajar...kurang ajar...kurang ajar!!!”
Prang!!! Prang!!!
“Selalu saja dia...selalu saja dia...apapun yang kulakukan tidak akan ada gunanya kalau ada DIA!!! KURANG AJAR!!!”
Prang!!!
Tok tok tok.
“Nona! Nona! Nona Runa, anda kenapa? Nona!”
Tok tok tok.
“Nona!”
Dari luar, terdengar suara ketukan. Panggilan-panggilan di luar itu juga terdengar panik.
“Cepat hubungi tuan! Panggil nona! Panggil dokter!” instruksi-instruksi mulai bergema.
“Aku baik-baik saja, Tuan Kaien, anda tidak perlu menghubungi mereka.” Seorang gadis tiba-tiba muncul dari dalam kamar itu. Gadis itu tersenyum ramah, tampak seperti baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. Dan hal tersebut membuat segala aktivitas kepanikan mereka terhenti.
Mereka, para orang-orang berpakaian pelayan itu, diam beberapa saat. Mereka jelas bingung dengan perubahan yang begitu tiba-tiba itu. Namun mereka cukup tahu diri untuk tidak berkomentar. Mereka segera berbaris di depan kamar sang nona mereka.
“Apakah anda membutuhkan sesuatu, Nona?” tanya mereka bersamaan sambil membungkuk hormat, selayaknya mereka sebagai pelayan
Runa, si nona, mengembalikan wajah aslinya yang suram begitu mereka semua menunduk.
“Tidak, pergilah!” katanya lalu membanting pintu kamarnya.
Nona Runa...
---ArineYuki AFz---.
Epilog
Sara : aku lelah...aku merasa lelah dengan semua yang kualami...
Ichiru : kenapa bisa begitu? Sara-chan, kuharap kamu tidak berpikir yang aneh-aneh.
Sara : memang tidak, Ichiru. Hanya saja...
Kotak chating itu terdiam. Tidak ada lanjutan kata-kata dari si pemilik nama Ichiru. Sara mencoba menunggu, tapi dia tidak punya cukup kesabaran untuk itu terlalu lama.
Ichiru : Sara! Sara-chan, kau sedang apa?
Masih tidak ada jawaban.
Ichiru : Sara!!
Ichiru mencoba memanggilnya lagi. Ditatapnya layar komputer itu dengan perasaan yang kesal sekaligus resah. Jemarinya lalu kembali bergerak ke arah keyboard. Namun, belum lagi menyentuh salahsatu huruf, ia menghentikannya di udara. Sebuah balasan muncul sebelum akhirnya titik hijau tanda orang di seberang masih aktif akhirnya menghilang.
Sara : Maafkan aku, Ichiru. Sayonara...
Kalimat itulah yang muncul. Ya, hanya ada kalimat itu, sebelum akhirnya kontak mereka berakhir. Brak!!! Ichiru lantas memukul meja komputernya dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Wajahnya memerah saking kesalnya ia. Lalu keningnya mengerut saking terlukanya ia. Rambut lurus hitam pekatnya yang sudah memanjang lantas jatuh ke arah depan dan menutupi ekspresinya. Setetes demi setetes airmata jatuh dan hampir mengenai keyboard komputer. Ichiru mulai menangis, terdengar dalam dan pilu.
“Sara...chan...” ucapnya, samar...
----ArineYuki AFz---
Soul of Souls
“Kemana dia? Dia terlambat lagi. Sudah jam segini, harusnya kita mulai dari tadi.” Ngomel Akihiro, wakil kapten tim andalan SMA 1 Maros.
“Tumben kamu mengomentarinya.” Ucap Arya yang sedang berdiri sambil bersandar di tiang net setelah menyelesaikan tugasnya memasang jaring. Ia melipat kedua lengannya di depan dada dan menatap sinis sang kapten. “Bukannya dia kapten kesayanganmu? Apa kau sudah tidak memihak padanya?”
Akihiro terdiam.
“Ah jangan-jangan dia mengundurkan diri ya? Lari mungkin, darimu...wakil kapten...”
“Diam kau!” teriak Akihiro, memotong ucapan Arya yang sepertinya belum selesai. Sang kapten terlihat sangat kesal, lebih kesal dari yang tadi. Wajahnya tahu-tahu memerah. Matanya menoleh ke arah Arya dan menatapnya nanar.
Ivan, Trias, Zeus dan Akira, rekan satu tim mereka terlihat sedikit terkejut dengan ekpresi yang baru saja diperlihatkan Akihiro. Mereka menoleh ke arah keduanya secara bergantian, mencoba memastikan apa yang baru saja terjadi. Ivan yang paling junior karena baru saja bergabung pun bahkan menunjukkan rasa segannya. Namun tampaknya berbeda dengan Leon yang dijadikan tameng oleh Ivan, pemuda itu kelihatan tenang sekali. Ia memajui sang kapten.
“Akihiro, tenanglah...” pintanya meletakkan telapak tangan kanannya di bahu kiri pemuda itu.
“Minggir, Leon! Aku memang punya urusan dengan dia, jadi jangan halangi aku!” sahutnya dengan suara yang lain dari biasanya.
“Wah wah wah...ini sebenarnya ada apa sih? Mereka memang sudah menjadi hal yang bisa jika bertengkar, tapi...baru kali ini aku melihat Akihiro naik pitam. Dia itu kenapa ya?” komentar Akira.
“Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan mereka.” Kata Zeus. Ia melanjutkan aktivitasnya menganalisa sesuatu di notebook.
“Lagi-lagi bawa notebook. Notebook itu belahan jiwamu ya, Zeus? Apa itu pacarmu sampai-sampai kami tidak pernah melihatmu jalan sama satu cewek pun di sekolahan ini?” tanya Trias. Ia berjalan mendekati Zeus dan mengintip apa yang sedang dikerjakannya. Namun, belum lagi ia sempat melihat jelas apa yang sedang ada di layar, Zeus menutup notebooknya secara mengejutkan.
Ia berdiri dan memperbaiki kacamatanya, “Dan sebaiknya kau tidak mengganggu urusanku atau aku akan mengacaukan jadwal pertandingan Volly kalian.” Ancamnya sambil berdiri dan menghadapi Trias. Suaranya terdengar dingin dan sinis.
“Wew...serrem...” Trias bersiul kecil. Ia kembali ke tempatnya semula, di bangku yang terletak di bawah pohon. “Well...sebenarnya Zeus itu cukup manis. Postur tubuhnya yang tinggi dan tidak terlalu kurus juga cocok menjadi pemain. Tapi kacamata dan sikapnya yang buruk itu yang bikin aneh. Payah...”
“Setidaknya dia mau jadi menejer club kita. Bukankah berkat dia, pamor tim kita sekarang ditakuti sekolah lain?”
Trias yang baru saja duduk mengangguk-angguk.
“Eh?” tiba-tiba ia tersadar. “Joe???” teriakannya yang tiba-tiba, seketika menyedot perhatian seluruh anggota club basket yang saat itu ada di lapangan. “Sejak kapan kau duduk di sini???”
“Baru saja kok.” Jawabnya cepat. Ia terlihat santai sambil menatap ke arah lapangan tempat Akihiro, Leon dan Arya berdiri. Kedua pahanya disilangkan dengan paha kiri yang berada di atas. Tangan kanannya bertopang di sandaran kursi, berada di belakang Trias. Mereka menjadi terlihat seperti sepasang kekasih. Trias menyadarinya, maka dari itu si cowok berkulit putih dan berwajah manis itu tersipu panik.
“Huwaaa...!!!” Trias jatuh dari bangku itu.
Joe lantas tertawa, dia sungguh senang menggoda cowok yang satu itu. Tapi bukan berarti dia cowok penyuka sesama jenis loh. Soalnya dia masih normal. Kabarnya, banyak gadis sekolahan mereka yang pernah ‘dimakan’ olehnya. Benar tidaknya kata ‘makan’ itu, memang belum pernah ditemukan langsung oleh rekan satu tim Volly Joe. Soalnya, itu sering mereka dengar saja dari anggota club mereka atau para gadis di sekolahan mereka. Adapula cerita dari para gadis di luar sekolahan mereka. Mau bagaimana lagi, si Joe memang bintangnya tim hebat mereka sih, jelas banyak cerita soal dia. Dan berkat dia, club mereka tidak sepi dari penonton baik saat hanya latihan maupun bertanding.
“Soalnya dia cerdas, pinter, atletis, dan ganteng lagi! Hehehe...” itu kata para gadis yang datang menonton tim mereka dan meramaikan club mereka.
Soal ‘tim’ dan ‘club’ sendiri, mungkin ini memberikan sedikit tanda tanya. Sebenarnya ada perbedaan di dua kata ini, tim yang berarti kelompok kecil yang terdiri dari 7 cowok yang memiliki kemampuan bermain volly di atas para pemain lain dan club yang berarti club volly SMA 1 Maros yang menaungi berdirinya tim ini. Orang-orang menyebut ketujuh cowok ini, D’Anchors. Ya, karena itulah nama tim mereka. Anchor yang berarti sebuah jangkar yang dipakai kapal untuk berhenti, yang mereka harapkan akan menahan kemenangan tim manapun. Namun, pada dasarnya bukan karena anchor yang memiliki arti jangkar serta sifatnya. Mereka memiliki tujuan untuk berlabuh menemukan sesuatu yang akan semakin menguatkan dan mengeratkan mereka. Juga, anchor yang berasal dari kata ‘anemic chore’, yang berarti ‘tugas yang menderita kekurangan darah’ secara harfiah.
Tentang volly? Sebenarnya tidak sepenuhnya tentang volly. Volly hanya kelebihan sampingan mereka. Ini tentang ‘kemampuan otak’ mereka, dimana mereka bertujuh unggul dalam satu pelajaran dan sering mempersembahkan piala, medali, atau sertifikat untuk sekolah mereka. Meski pandai di berbeda pelajaran, mereka selalu terlihat bersama dan disegani serta menjadi idola. Wajah mereka juga lumayan, beberapa.
Leon maju duluan sebelum yang lain, “Joe, darimana saja kamu? Kamu sadar kan kalau kamu terlambat? Sebagai kapten, tidak seharusnya kamu...”
“Cukup, Leon, aku tahu.” Potongnya dengan menggerakkan tangan kanannya, mendorong tubuh pemuda yang selalu jadi penengah itu. Wajahnya langsung mengeras dan menunjukkan wajah pemimpin yang sangat berkompeten. “Semua bersiap! Latihan akan kita mulai dalam...” ia melihat jamnya. “Sekarang!”
“T-Tapi anda belum menukar pakaian, k-kapten!” Ivan memberanikan diri menegur.
Joe lantas menoleh padanya. Tatapan mata yang tidak biasa ditemui Ivan membuat dirinya memucat.
“M-maaf...”
Joe hanya berlalu. Sedangkan seseorang membuatnya terkejut dengan meletakkan tangan di bahu kirinya, “Itu sudah biasa baginya. Lain waktu jangan kau ulangi atau kau akan...” ia mendekatkan wajahnya ke Ivan dengan ekpresi seram, “Mati...”
Deg!!! Wajah Ivan seketika semakin memucat, sementara Akira ngakak dengan tangannya yang masih berada di bahu Ivan.
Buk!!!
“Akira!!!”
Cowok itu ditimpuk bola volly oleh sang kapten.
“Joe, siang ini jangan lupa mengajar Kimia di clubmu! Hari ini adalah jadwalmu!” Zeus si meneger club sekaligus menejer dan anggota D’Anchor itu berteriak mengingatkan. Dan hal ini membuat Joe mendesah.
---ArineYuki AFz---
“Hhh...akhirnya, aku bisa pulang ke rumah...” ucapnya dengan perasaan yang lega, begitu ia duduk di salah satu kursi di dalam bus sekolah. Sebenarnya dia punya motor, hanya saja mogok sewaktu ke sekolah. Motor itu sekarang ada di bengkel dan baru bisa diambil besok pagi. Itulah yang menjelaskan keterlambatannya datang latihan volly pagi ini. “Lelah...ada bagusnya naik bus. Aku dapat...” ia menyandarkan kepalanya ke jendela, “Istirahat...sejenak...”
“Aku sungguh minta maaf, Mao. Aku sungguh tidak bermaksud mengabaikanmu sebagai sahabatku. Aku juga jadi jarang menemuimu bukan karena aku benci padamu. Ini karena aku benar-benar...kau tahu...aktif di sebuah page anime yang sangat menyenangkan! Kau ingat komik Vampire Knight karya Hino Matsuri yang waktu itu kupinjam darimu? Aku menemukan page roleplay anime ini dan page itu sangat menyenangkan! Orang-orang di dalamnya ramah-ramah dan sudah seperti keluarga. Padahal kami semua datang dari daerah yang berbeda dan kebanyakan tidak pernah bertemu sebelumnya loh!” sebuah suara yang sangat berisik tiba-tiba saja membuat kening si pemuda mengerut berlipat-lipat.
Pemuda itu terpaksa membuka mata. Ditegakkannya kepalanya, ia berdecak kesal. Tetapi si pemilik suara heboh itu tetap saja berceloteh. Ia lantas menarik nafas dalam-dalam, mencoba menahan amarah.
“Vampire Knight? Komik yang bercerita tentang sebuah sekolah yang memiliki murid kelas pagi dan kelas malam itu? Yang kelas malamnya itu adalah vampir kan? Yang ada cowok cool bernama Ichiru itu?” cewek yang satunya menimpali.
“Kok jadi Ichiru sih? Yang keren itu Zero tauk!” si gadis yang tadi mengganggu terlihat cemberut.
Si pemuda, Joe, terus memperhatikan keduanya. Ia menarik nafas lagi. Dicobanya mengirim sinyal si bintang Joe kepada mereka, tetapi keduanya terlihat tidak menyadarinya. Joe lantas berdehem dan itu baru membuat mereka menoleh, namun sayangnya mereka kembali bercengkrama membahas Vampire Knight dan page itu.
“Ya ampun...” Joe menutup wajahnya dengan satu tangan saking kesalnya. “Apa sih yang mereka bahas itu? Asyik sekali mereka, sampai-sampai tidak perduli dengan...waktu istirahat sang idola sepertiku ini...padahal mereka di sekolah yang sama denganku. Apa mereka tidak mengenalku?” gerutu Joe.
Ia ingin menegur mereka, tapi diurungkannya. Akhirnya ia hanya merebahkan kembali kepalanya ke jendela dan memandang keluar. Sementara, telinganya mau tidak mau harus mendengarkan kedua gadis tersebut.
---ArineYuki AFz---
Tok tok tok! Pintu diketuk orang yang diluar. Orang itu adalah seorang pemuda berambut hitam pekat berbelah samping yang tinggi. Dia terlihat sangat lelah dengan membuat tubuhnya menempel di pintu, berat tubuhnya ditumpahkan ke pintu itu.
Tok tok tok! Mengetuk lagi, kali ini dengan tak sabar.
“Iyaaa...! Sabaaaar...! Siapa sih?” terdengar sahutan suara perempuan, terdengar masih muda dan bersemangat. Semangat karena kesal diganggu sepertinya.
“Riiya...! Cepetaaann...!” teriak pemuda itu, Joe.
Bruk! Tubuh Joe menabrak pintu hingga berbunyi ketika ia ingin masuk melalui salah satu daun pintu yang dibuka. Gadis yang membuka pintu jelas kaget.
“Joe!!!” ia berusaha menangkap tubuh Joe. “Joe, kau kenapa?”
Joe yang berada di pelukan Riiya segera membuka mata, “Aku lelah mendengarkan ocehan dua cewek berisik di bus sekolah tadi, de’...” ujarnya.
“Ng? Apa?” Riiya tak mengerti. Ia menatap kakaknya beberapa saat, mencoba mencerna kata-katanya tadi. Dan...
Buk!!! Riiya menjatuhkan tubuh Joe.
“Kakak apa-apan sih! Ada-ada aja deh!” umpatnya. “Menyebalkan!” Riiya meninggalkan sang kakak.
“Riiya...jangan tinggalin kakak...” Joe berusaha memanggilnya, bermaksud meminta bantuan atas tubuhnya yang sedang tak bertenaga. Ia terpaksa menyeret tubuhnya seperti sedang merayap. Tangannya berusaha menggapai-gapai dan memanggil-manggil, tapi Riiya terus berjalan meninggalkanya. Wajah Joe lantas memucat. Ia menelungkupkan wajahnya dan menempelkan dahinya ke lantai, menangisi kecuekan sang adik.
“Tidak usah lebay deh...” itu Riiya yang sudah berdiri di samping kepalanya.
“Siapa, Riiya?” teriak ibu dari dapur.
“Si Lebay, Mah!” sahut Riiya.
“A!!! Riiya...kau kejam sekali pada kakakmu ini...”
“Nggak dengar...” Riiya meninggalkannya lagi dengan cuek.
---ArineYuki AFz---
“Kak Joe, ini aku Riiya bawa makan malam kakak! Boleh aku masuk?” Joe baru saja usai mandi ketika tahu-tahu seseorang mengetuk pintu kamar mandinya.
Joe yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk di depan jendela sambil menatap keluar, tersadar. Ia pun berjalan ke arah pintu dan membukanya untuk sang adik. Pakaiannya telah berganti menjadi pakaian rumah, sebuah kaos oblong tanpa lengan berwarna hitam dan celana yang pendeknya selutut. Itu tampak selaras dengan rambut hitam dan mata hitam pekatnya.
“Kakak ini merepotkanku saja. Aku kan lagi asyik baca komik. Malah disuruh mama bawakan kakak makanan. Kakak sayang tidak sih sama aku?” Riiya menggerutu. Diletakkan nampan berisi makan malam kakaknya di meja belajar. Di sendiri duduk di kursi belajar sang kakak dan kembali melanjutkan bacaannya.
“Maaf deh...maaf...” ucap sang kakak sambil membuka laci meja belajarnya.
Rupanya ia mengambil Silverqueen untuk diserahkan pada Riiya sebagai sogokan. Riiya tentu menerimanya dengan gembira, soalnya itu faforitnya. Ia meletakkan bacaannya di atas meja dan mulai membuka coklat itu. Saat itulah, Joe melihat apa yang sedang dibaca sang adik.
“Vampire Knight?” gumamnya tak jelas.
“Apa?” Riiya jelas spontan bertanya.
“Ini rupanya komik yang tadi asyik dibicarakan si gadis-gados berisik tadi...” ia mengambil komik itu dan membaca belakangnya.
“Hati-hati! Tanda bacaku bisa hi...lang...”
Telat! Joe sudah mengangkatnya dan menghilangkan tanda itu. Tadi, sewaktu Riiya meletakkan komik itu, dia mengambil salahsatu buku sang kakak dan menjadikan sampulnya sebagai pembatas. Dan Joe melepasnya tanpa tahu apa fungsinya.
“Iiiihh...kak Joe ini apa-apaan sih!!! Gara-gara kakak, aku jadi nggak tahu sampai mana aku sudah membacanya kan!” Riiya marah-marah. Ia mencoba merampas buku itu, tetapi Joe cekatan menghindar. Riiya sedikit terkejut dengan sikapnya itu. Soalnya, biasanya Joe akan mengembalikannya dengan penuh ekspresi sayang jika sang adik sudah marah. Namun kali ini, Joe tidak melakukan kebiasaannya. Dia malah asyik memperhatikan komik itu.
“Menarik. Apa kau juga suka sama komik ini, adik? Kedua gadis di bus tadi, mungkin saking sukanya mereka sama komik ini, mereka terus saja membahasnya hingga aku turun. Dan mungkin saat akan berpisah pun, mereka masih tetap membahas komik ini loh.” Tutur sang kakak dengan ekspresi serius.
Riiya tak menjawab beberapa saat. Ditatapnya wajah itu baik-baik dan diingatnya ekpresi apa itu. Ya, tidak salah lagi, itu memang ekspresi baru yang ditemukannya dari sang kakak. Dia pun maklum. Diambilnya komik itu sebelum menyahut, “Tentu saja aku suka. Aku bahkan sangat suka komik ini. Ceritanya menarik. Gambarnya oke. Tokohnya cool. Apalagi si Ichiru, dia setia banget. Ah andai aku punya saudara atau pacar yang sesetia Ichiru, aku pasti akan menjadi gadis paling bahagia sedunia...!”
Riiya berteriak senang. Ia bahkan berdiri dari tempatnya dan beranjak ke tempat tidur kakanya dan berbaring di sana. Diambilnya bantal guling dan ditutupinya wajahnya dengan itu. Remaja berusia 14 tahun itu tampak seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
Joe melihat semuanya tanpa berkedip sedikit pun. Baru setelah sang adik bersembunyi di balik bantal, ia menegdip-ngedipkan mata seolah menyesuaikan diri dengan cahaya yang muncul tiba-tiba. Ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sepertinya sedikit bingung/ joe lantas berjalan mendekati sang adik dan menyingkirkan bantal yang menutuoi wajah sang adik.
“Pagenya bahkan sudah ada loh, kak. Page itu page roleplay. Aku bahkan sudah menjadi admin di sana dan aku bermain seperti benar-benar jadi tokoh dalam anime aslinya. Teman-teman di sana ramah-ramah. Pemiliknya baik dan selalu ngasi kami masukan-masukan. Pokoknya, menyenangkan sekali! Bla bla bla...”
Riiya menjelaskan panjang lebar. Ia tampak sangat bersemangat dan ceria. Wajahnya bahkan lebih berseri dari biasanya. Meski banyak kalimat yang Riiya ulang sehingga cerita itu terdengar sambung menyambung, Joe tetap saja menjadi pendengar yang setia yang baik. Joe tidak melewatkan sedikit pun, meski perhatiannya tertuju pula pada wajah ceria adik yang amat disayanginya itu. Joe senang melihat adiknya yang bahagia, sekaligus ia merasa...cemburu...
Mungkin, ini sebabnya Riiya belakangan ini jarang ngobrol denganku. Waktunya menjadi berkurang untuk kami. Dia juga menjadi sedikit cuek sama aku, walaupun ia lebih bahagia dari biasanya...pikirnya dalam hati. Cowok ini memang sister complex.
“Riiya, kakak juga mau dong, gabung di page itu. Kakak juga mau jadi adminnya.” Tahu-tahu, pikirannya itu secara refleks membuatnya mengucapkan kalimat-kalimat ajaib tersebut.
Riiya melotot beberapa saat. Mata itu tadinya memancarkan keterkejutan. Namun lama-lama berubah bercahaya,terharu.
“Sungguh? Kakak benar-benar mau jadi admin? Kebetulan, Creator-sama meminta kami mencari calon admin. Kakak mau jadi admin chara apa?” sekejap, Riiya menjadi adik Joe yang biasanya.
“Chara Ichiru!” sahutnya mantap.
---ArineYuki AFz---
Chara Ichiru. Chara merupakan singkatan dari character yang berarti tokoh. Ini adalah istilah yang biasa dipakai di dunia page roleplay. Roleplay sendiri merupakan permainan lakon/sandiwara (jika boleh disebut demikian) dimana kita memilih sebuah chara untuk diperankan lalu menulis status-status yang sesuai dengan sifat chara asli yang ada di anime atau movie atau komiknya. Ichiru adalah salahsatu chara dalam komik jepang Vampire Knight.
Ichiru merupakan adik kembar dari seorang pemburu vampir bernama Zero, si tokoh utama. Seharusnya, Ichiru ini juga menjadi seorang pemburu vampir. Tapi tubuhnya lemah, berbeda dari Zero. Suatu hari, ia mendengar fakta bahwa dia benar-benar tidak dapat menjadi seorang pemburu vampir dan hanya Zero yang terpilih. Itu membuatnya keluar dari rumah dan bertemu seorang vampir darah murni bernama Shizuka. Ichiru mengadakan suatu perjanjian dengan Shizuka dan membiarkan gadis yang pacarnya kebetulan terbunuh oleh orangtua Ichiru itu membalas dendam ke keluarganya sendiri. Ichiru meninggalkan Zero sendirian sebagai seorang vampir monster dan dia sendiri ikut Shizuka. Ichiru setia sekali pada Shizuka. Dia jahat terhadap saudaranya yang bernama Zero itu, meski begitu, dia tetap memiliki rasa sayang terhadap Zero. Karena kesetiaannya itu dan kemiripannya dengan si tokoh utama Zero, banyak pula penggemar anime yang nge-fans sama tokoh ini. Cewek di bus suka tokoh ini dan adiknya Riiya pun suka tokoh ini. Nama tokoh ini banyak didengarnya hari ini. Maka dari itu, Joe memilih chara Ichiru ini dengan mantap tanpa berpikir panjang.
---ArineYuki Afz---
New Side of Sides
Sudah seminggu sejak Riiya mengajarinya tentang bagaimana bergabung di Indonesian Vampire Knight. Awalnya cukup sulit untuk menyesuaikan diri, apalagi saat menjadi admin. Hati Joe cukup berdebar saat ia berada di tahap pertanyaan seputar chara yang akan ia perankan. Untung ada Riiya yang mau mengajarinya. Saat sudah jadi admin dan menggunakan nama page, kalau menulis status tidak boleh lupa nama chara yang ia perankan atau sang Creator akan memarahinya. Terkadang orang itu memang bawel, Joe sering kali dibuat kesal jika dia sudah seperti itu. Terus, aksi dan perkataan harus dibedakan. Aksi harus ditulis dalam dua simbol yang sama, kadang simbol bintang (*) kadang simbil garis lurus (-). Mereka juga sering diminta membuat roleplay umum dimana yang bertugas harus membuat sebuah alur cerita yang percakapannya disambung oleh para admin. Joe sering kewalahan soal roleplay umum itu, imajinasinya tidak cukup untuk itu sih. Tapi lama-lama semua menyenangkan loh. Joe mulai menikmatinya. Semakin lama ia semakin menyadari betapa akrabnya para admin dan member di page itu.
Admin adalah singkatan dari administrator yang berarti pengurus atau pengelola. Mereka adalah orang-orang yang memakai nama page. Misalnya nama page itu Indonesian Vampire Knight, yang punya tuh memang satu orang. Akan tetapi, pengelolanya bukan cuma ada si pemilik atau pembuat page yang sering disebut Creator. Ada banyak pengelola di dalamnya sehingga masing masing dari mereka harus mencantumkan nama saat membuat status. Di page itu, adapula orang-orang yang tidak menjadi admin. Mereka tidak memakai nama Indonesian Vampire Knight. Mereka disebut Member, semua orang yang sudah me-like page itulah yang termasuk dalam istilah ini. Sedangkan Page adalah istilah yang dipakai untuk sebuah halaman dari facebook. Page ini tidak berdiri sendiri dan tidak perlu memakai email khusus untuk masuk seperti jika mau masuk profil facebook kita sendiri. Karena, page ini dapat dimasuki dari profil kita, cukup dengan men-search-nya saja. Dan bila menjadi admin, secara otomatis kita akan memakai nama page itu.
Itulah penjelasan singkat seputar page anime di dunia maya bernama facebook. Seperti seorang artis, para admin memainkan chara mereka sesuai dengan sifat asli chara dari komik atau animenya. Mereka dapat menulis status apapun meski itu lebay dan tidak perlu merasa cemas dicemooh orang. Inilah bagian menyenangkan bagi Joe. Secara, dia kan sister complex yang suka lebay tapi tidak mau jika ada temannya yang tahu.
“Kalau di luar rumah, mana pernah dia berlagak manja atau memanjakan aku. Dia itu selalu berlagak cool di luar rumah. Kalau bertemu aku, disapa sih iya, dikhawatirin sih iya, tapi dianya tetap cuek. Pokoknya beda 180 derajat deh dari sikapnya ke aku di rumah!” itu kata Riiya jika ditanya soal sang kakak di luar rumah. “Itu sisi lainnya kakak. Yang lebay-nya dia ke aku itu loh. Ini dia sembunyikan banget. Dia tidak mau orang sampai tahu. Padahal, kalau orang tahu, kupikir mereka akan semakin kagum sama kakak. Yah, mau bagaimana lagi, dia katanya bintang tertinggi di sekolahannya sih! Awas saja kalau aku sampai bisa masuk ke sekolahnya kakak. Hm...gimana jadinya ya? Hohohoho...” Riiya tertawa ala cewek devil.
Dan sekarang, sisi lainnya bertambah satu...
---ArineYuki AFz---
“Loss!” teriak Joe sambil tetap membungkuk. Mendengar itu, pemain di belakangnya segera maju dan mendapatkan bola tersebut. Dia mengopernya ke sebelah.
“Tahan!” teriaknya pada pemain yang di dekat nett. Bola kembali berhasil dikembalikan.
“Ivan, smash!”
Tak!!! Bola jatuh di kandang lawan tanpa mampu dibalikkan ke arah Joe Cs. Yosh! Dengan begini, perhitungan selesai.
“Pemenangnya adalah...D’Anchors dari SMA Negeri 1 Maros dengan skor 24-23!” teriak sang wasit setelah meniup peluit panjang.
Seketika, podium volly itu bergema. Orang-orang pendukung Joe Cs. bersorak senang. Bendera kebanggaan D’Anchors yang ada gambar jangkarnya berkibar di udara. Demikian pula bendera club volly mereka dan bendera sekolah mereka. Joe lantas mengangkat kepalan tangannya ke udara, membuat penggemarnya semakin bersorak. Anggota-anggotanya lalu mengikuti beberapa saat kemudian dan semakin membuat podium itu penuh oleh teriakan semangat. Mereka lantas kembali ke ruang ganti.
“Hua...kali ini aku sangat lelah!” ucap Trias begitu mereka masuk ruang ganti. Ia lantas mengambil tempat di bangku dan langsung merebahkan tubuhnya.
“Hoi hoi...Trias, aku juga mau duduk. Aku juga lelah. Bangun! Bangun!” Akira menepuk-nepuk lengan Trias.
Seketika Trias menampakkan wajah cemberutnya. Ia bangkit dengan malasnya sambil terus memberikan wajah cemburutnya pada akira. Yang lain langsung menuju lokernya dan mengambil air minum atau handuk atau pakaian ganti. Tapi tidak dengan Joe, ia justru mengambil Blackberry-nya dan mengambil tempat di jendela.
Akira melihatnya duduk di sana tanpa sengaja, soalnya tepat berada di belakang Trias. Keningnya lantas mengerut. Diperhatikannya Joe dengan seksama tanpa berkedip.
“Kau lihat apa, Akira?” tegur Trias yang merasa diabaikan.
Yang ditegur tidak langsung menyahut. Ia malah menunjuk-nunjuk dengan dagunya, seperti memberi kode agar Trias melihat ke belakang. Trias tidak serta merta paham. Arya yang melihat juga melihat kode-an itu yang langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Akira. Trias mengikuti setelah menyadarinya dari Arya. Akihiro yang sedari tadi mengawasi Arya juga menoleh. Leon yang mencemaskan keduanya menoleh selanjutnya. ivan yang sedang membawa baju ganti hanya menoleh sebentar, lalu dia masuk ke kamar mandi yang ada dalam ruang itu.
Leon lantas menjadi pusat perhatian selanjutnya. ia ditatap aneh oleh si kawan-kawan. Awalnya Leon membalas dengan wajah heran, namun akhirnya dia mendesah pasrah. Ya, itu tanda bahwa mereka ingin agar Leon memajui Joe. Soalnya itulah Leon yang selama ini mereka kenal, si penengah.
Joe sebetulnya adalah kawan yang ramah dan bersahabat dengan orang lain. Jika ada yang datang padanya, dia selalu menyambut mereka dengan baik. Akan tetapi, jika biasanya orang yang terdekat dengan sang idola itulah yang paling tahu tentang si sang idola, mereka justru berada di atmosfir yang berbeda. Mereka memang teman terdekat si Joe. Saking dekatnya, mereka sadar bahwa sikap yang Joe tunjukkan itu ke mereka itu berbeda dengan sikap yang ditunjukkan Joe ke anak-anak di luar tim mereka. Joe menjadi cowok yang sulit ditebak di hadapan mereka, justru karena Joe menunjukkan banyak ekspresi. Selain itu, tidak satupun dari mereka yang tampaknya tahu betul soal Joe ‘yang detail’ atau Joe yang asli.
“Joe, tidak ganti baju dulu? Kita harus kembali ke sekolah lagi kan?” sapa Leon sambil memberikan minum ke Joe.
Joe menyingkirkan perhatiannya dari handphone. Ia menoleh pada wajah Leon. Lalu melihat botol air mineral yang disodorkan Leon. Ia kemudian mengambil mineral itu sambil kembali memperhatikan layar, tanpa menyahut sedikit pun.
Leon merasa diabaikan, lebih dari biasanya. Namun, walau dia sedikit gugup juga saat berhadapan dengan Joe, Leon tetap tidak mundur atau mengurungkan niatnya.
“Kau sedang apa? Kayaknya asyik banget? Sudah dapat pacar baru lagi?”
“Tidak.” Jawab Joe langsung.
“Lalu?”
“Semua segera bersiap! Kita kembali ke sekolah sepuluh menit lagi!” alih-alih menjawab, Joe justru berdiri dari tempatnya dan memberikan instruksi. Kontan saja Leon kagut, juga teman-temannya yang lain. Namun, tanpa banyak protes, mereka segera bergerak dari tempatnya untuk bersiap.
“Hari ini dia aneh atau hanya perasaanku saja?” Akira menyempatkan ngobrol dengan Akihiro yang tadi mengambil loker di sebelahnya.
Akihiro yang baru saja menutup lokernya menyahut, “Nggak ada urusannya denganku!”.
Arya lewat, “Ya, memang tidak ada urusannya denganmu. Tapi aku yakin kau pasti memikirkannya juga kan? Dan hatimu...” Arya tersenyum mengejek sambil menghadap Akihiro, “Tersenyum senang bukan?” sambungnya sambil meletakkan ujung jari telunjuknya di dada Akihiro.
“Diam kau!” hardiknya. “Dan singkirkan jari kotormu itu dari tubuhku!”
Dihalaunya tangan Arya, wajah Akihiro tampak kesal berlipat-lipat. Arya sendiri, bukannya membalas, dia justru tersenyum dibuat-buat. Ia kemudian berlalu dan itu membuat Akihiro lebih kesal lagi. Akihiro hendak menyalurkan amarahnya, tapi ditahan oleh Leon. Akihiro lantas hanya bisa memukul pintu lokernya untuk meluapkan amarahnya itu. Leon sendiri merasa...bersalah.
Tanpa disadari siapapun, kedua tangan Leon mengepal. Giginya terkatup kuat-kuat. Urat nadi di keningnya muncul ke permukaan. Telinganya memerah dan keningnya mengerut. Ia benar-benar merasa tidak tahan lagi. Leon, belakangan ini mulai merasakan ada yang tidak beres dengan tim mereka. Mulai ada keretakan di tubuh D’Anchor. Dia memang bukan pemimpin kelompok itu dan dia tidak mau jadi pemimpinnya. Namun, meski begitu, dia tetap sadar untuk mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap tim mereka. Karena baginya, timnya itu sangat berarti.
“Joe, sadarlah...cuma kamu harapan kita satu-satunya. Ada sesuatu yang buruk sedang menimpa tim kita! Kalau hal ini tidak segera diperbaiki, D’Anchors bisa hancur! Joe, aku rindu dengan D’Anchors lama...” katanya samar. “Ryuu, andai kamu masih di sini...”
“Leon.” Seseorang memegangi pundak kanan Leon. Leon tampak terkejut. Ia mengira itu Joe hingga wajahnya sedikit memucat. Saat menoleh, itu membuatnya lega. Pemuda itu tidak lain adalah Zeus.
Zeus memperbaiki kacamata tebalnya, “Leon, cepatlah bersiap!”.
Leon menatap Zeus lama, sebelum akhirnya menyahut dengan tampang lesu, “Baiklah...Zee...”
Ia menuju lokernya, mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi.
“Hm...”
---ArineYuki AFz---
Pukul 12.30 lebih, mereka telah tiba kembali ke sekolah. Mereka memakai Avanza Ivan yang memang selalu dibawa oleh pemuda itu sejak masuk SMA. Ivan sendiri adalah anak seorang pengusaha (atau adik seorang pengusaha ya?) ternama di kota itu. Dia satu-satunya anggota yang baru duduk di kelas satu, yang lain sudah kelas dua. Dia tergabung dalam D’Anchors sejak seminggu yang lalu. Sebenarnya dia pemuda yang agak kurang pede dan mudah dipengaruhi. Meski begitu, dia jago juga bermain volly dan cukup berkompeten di bidang matematika. Joe yang pertama kali menemukan dia. Ketika itu, Joe yang lagi jalan-jalan ke lapangan saat jam pelajaran karena lagi galau soal timnya, dikenalkan pada Ivan secara tak sengaja oleh sang guru.
Awalnya, Joe mengira akan mendapat teguran dari sang guru olahraga sekaligus pembina clubnya itu. Tidak tahunya, ia malah diminta membantu pak guru mengawasi permainan volly anak-anak kelas satu itu. Pak gurunya ada urusan di luar sebentar katanya dan dia yang akan memintakan izin untuknya ke guru yang sedang mengajar di kelasnya sendiri. Sebenarnya Joe sangat malas, apalagi dia sedang ada masalah. Tapi, ada salahsatu anak pemalu yang tiba-tiba menarik perhatiannya. Anak itu sering sekali dilihatnya belakangan ini. Terkadang, dia sendiri yang merasa dilihati oleh anak itu. Dan tak jarang, perasaannya sendiri yang membuatnya tertarik mengamati anak itu. Kali ini anak itu berada di sana, sedang dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya. Pemuda itu terlihat tidak nyaman. Joe menunggunya sejenak, hanya untuk tahu apakah dia berani melepaskan diri atau tidak. Tapi setelah tahu apa yang dilakukannya akan sia-sia, akhirnya Joe maju.
“Hei, kau yang di sana!” tunjuknya bak seorang guru.
Anak-anak kelas satu itu jelas kaget. Ivan merasa ada di situasi yang buruk hingga kali itu ia tiba-tiba mengharapkan dapat dilindungi oleh teman-temannya. Tapi sayang sekali, mereka semua justru menghindar dan meninggalkannya sendiri. Ivan yang gugup semakin panik. Takut-takut, ia menyahuti sang pengganti guru itu.
“Sa-saya, Kak? A-ada a-apa, Kak?”
“Giliranmu untuk main!” dengan gaya cuek, Joe melemparkan bola volly di tangannya secara tiba-tiba. Bola itu meluncur cepat dengan kecepatan tinggi menuju wajah Ivan.
Semua memandang ngeri saat bola itu mengarah ke arah Ivan. Beberapa cewek teman sekelas Ivan berteriak histeris, beberapa diantaranya bahkan menyembunyikan wajah di balik tubuh temannya atau tangannya sendiri. Mereka mengira, bola itu akan benar-benar menghantam wajah Ivan. Padahal, wajah Ivan kan...termasuk idola SMANSA Maros juga!
Tak!!! Eh? Apa itu? Suara apa itu?
Hampir dua per tiga dari teman sekelas Ivan bertanya-tanya, ingin tahu apa yang sudah terjadi. Bola volly itu sendiri sudah berada kembali di tangan Joe sedangkan Ivan terduduk di atas tanah, tampak terguncang.
“Ternyata benar...” gumam Joe. Dia lantas bergerak mendekati Ivan, “Bangun! Ayo masuk lapangan cepat dan perlihatkan permainanmu padaku!” paksanya.
“T-Tapi kenapa aku, Kak?”
Joe tidak menjawab. Agak kasar, dia membuat Ivan berdiri dan pergi ke lapangan. Dia sendiri berdiri di dekat net. Dia melempar bola itu sekali lagi ke arah Ivan. Namun, kali ini bola itu melengkung dengan garis pemotong 90 derajatnya mengarah ke atas.
Tadinya, beberapa teman-teman sekelas Ivan merasa sangsi bahwa Ivan dapat memukul bola itu. Namun rupanya mereka salah duga, Ivan yang selama ini tidak pernah mereka lihat bermain, justru sangat baik dalam mengontrol bola volly. Dengan sempurnah, dia melakukan front volly, overhead volly, jump volly, jump volley overhead, dan spike. Dia terlihat sangat bersemangat. Dia bahkan terlihat berbeda. Setelah bola pertama di lapangan menyentuh tangannya pertama kali, dia mulai terlihat lepas dan santai.
Sejak saat itu, Joe mulai memperhatikannya. Memberinya beberapa buku, artikel, atau apapun yang berhubungan dengan volly. Joe bahkan sering datang ke kelasnya dan membuat pamor Ivan semakin terangkat. Dua minggu kemudian, Joe memperkenalkan Ivan ke teman D’Anchorsnya sebagai anggota baru pengganti salahsatu anggota mereka yang akhirnya diikhlaskan pergi oleh Joe...kemarin...
Dia? Kenapa harus dia?
Atmosfir ruangan itu seketika membeku. Mereka semua terdiam. Ditatapnya Joe dan anggota barunya secara bergantian. Sungguh sulit dipercaya, baru sehari Joe mengiyakan anggota lama mereka pergi, dia sudah membawa penggantinya.
“Permisi...!” pintu club tiba-tiba terbuka.
Suasana hening tadi pecah. Seorang gadis yang baru masuk mengejutkan mereka. Membuat mereka lagi-lagi terdiam. Namun tentu tidak seperti suasana yang tadi. Kali ini mereka takjub...karena dikunjungi si gadis bintang idola bernama...Amu.
“Ah, Bebz, di sini kamu rupanya. Aku mencarimu kemana-mana tauk! Kau kan janji akan makan siang bersamaku hari ini. Gimana sih?” Amu cemberut.
“B-Bebz???” Trias dan Akira terkejut, mata mereka melotot. Keduanya lantas memandangi Joe karena sang bidadari itu juga sedang menatap ke arah tempat Joe dan Ivan berdiri.
“Joe, dia pacarmu???”
“Pantas kemarin dia asyik dengan hp-nya.” Arya ikutan terguncang.
Joe Cuma menggaruk-garuk kepala dan bersikap cuek.
“Joe, kau...” belum lagi Akihiro menyelesaikan kalimatnya, gadis itu tiba-tiba berlari ke arah keduanya.
“Sayang, ayo!” ucap gadis itu.
“I-Ivan???” sontak Leon, Akihiro dan sang kembaran Akira, Arya serta Trias berteriak kaget.
Lengkap sudah alasan Ivan diajak bergabung.
---ArineYuki AFz---
Prang!!!
“Kurang ajar...kurang ajar...kurang ajar!!!”
Prang!!! Prang!!!
“Selalu saja dia...selalu saja dia...apapun yang kulakukan tidak akan ada gunanya kalau ada DIA!!! KURANG AJAR!!!”
Prang!!!
Tok tok tok.
“Nona! Nona! Nona Runa, anda kenapa? Nona!”
Tok tok tok.
“Nona!”
Dari luar, terdengar suara ketukan. Panggilan-panggilan di luar itu juga terdengar panik.
“Cepat hubungi tuan! Panggil nona! Panggil dokter!” instruksi-instruksi mulai bergema.
“Aku baik-baik saja, Tuan Kaien, anda tidak perlu menghubungi mereka.” Seorang gadis tiba-tiba muncul dari dalam kamar itu. Gadis itu tersenyum ramah, tampak seperti baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. Dan hal tersebut membuat segala aktivitas kepanikan mereka terhenti.
Mereka, para orang-orang berpakaian pelayan itu, diam beberapa saat. Mereka jelas bingung dengan perubahan yang begitu tiba-tiba itu. Namun mereka cukup tahu diri untuk tidak berkomentar. Mereka segera berbaris di depan kamar sang nona mereka.
“Apakah anda membutuhkan sesuatu, Nona?” tanya mereka bersamaan sambil membungkuk hormat, selayaknya mereka sebagai pelayan
Runa, si nona, mengembalikan wajah aslinya yang suram begitu mereka semua menunduk.
“Tidak, pergilah!” katanya lalu membanting pintu kamarnya.
Nona Runa...
---ArineYuki AFz---.
seru! seru! kapan nih dilanjutin???
BalasHapus