Rabu, 18 Juli 2012

Langkah Seribu


“Kenapa bisa begitu? Aduh, seharusnya yang seperti itu nggak boleh ada di organisasi kita.” Ujar Qima begitu aku selesai menceritakan kondisi organisasiku.
Aku lantas menghela dan sedikit tertawa.
“Qim, kok kamu bilang seperti itu?”
“Ya jelaslah, Riziya sayang. Organisasi kita kan organisasi yang bernafaskan islam. Persyaratan menjadi anggota adalah mau belajar Islam secara kaffah. Kalau anggota kita seperti itu, artinya mereka nggak layak jadi anggota.” Sahutnya lagi.

Serta merta hatiku menjadi sedih mendengar hal itu. Sempit sekali pemikiran sahabatku ini. Jika semua teman-teman organisasi kami seperti ini, pantas saja sampai sekarang tidak ada hal baik yang terjadi. Mengutamakan persyaratan ‘belajar Islam secara kaffah’ daripada kemampuan yang berkaitan dengan organisasi. Memang organisasi kami adalah organisasi yang bernafaskan Islam dan menulis untuk menyampaikan hal itu, namun rasanya tidak adil bila harus sudah mencapai hal itu dulu baru bisa masuk. Terlalu keras, sungguh terlalu keras. Jelas nggak akan ada generasi yang mau maju belejar di organisasi kami jika seperti ini.
 “Ck ck ck…” aku menggeleng sedih, “Pikiranmu sungguh terlalu jauh, Qima. Aku paham kalau organisasi kita bertujuan untuk memberikan pelajaran agama, mendidik pelajaran agama, dan menyebarkan pelajaran agama. Tapi apa yang kamu pikirkan baik untuk dilakukan itu tidaklah tepat. Terlalu keras. Teman-teman bisa saja lari sebelum mencoba loh. Dan apakah kamu menyadari apa artinya itu?” tanyaku mencoba untuk tenang.
Qima mengerutkan kening, sepertinya gadis berjilbab lebih besar dariku ini tampaknya belum bisa mencerna kata-kataku. Apakah bertele-tele ya caraku menjelaskan? Ah, tidak, semoga saja tidak.
“Menurutku, jika itu yang dipikirkan teman-teman, jelas kita tidak akan berhasil mencapai tujuan, yaitu berdakwah menyebarkan Islam. Bukankah Islam mengajarkan kita dengan cara-cara yang baik? Rasulullah saja tidak langsung menegur keras para sahabat yang melakukan kesalahan. Misalnya minum arak atau sesuatu yang beralkohol. Bukankah Allah tidak langsung menegur ummatnya Nabi kita dengan menurunkan ayat yang berkata misalnya begini; ‘wahai umat muslim, berhenti minum arak sekarang juga!’, apa pernah? Bukankah tidak? Karena Allah sendiri menurunkan ayat secara bertahap untuk mengajarkan kepada umat Islam apa yang benar dan apa yang salah. Sama seperti ketika kita ingin mengambil langkah seribu, apakah bisa kita langsung berada di langkah kaki kita yang ke seribu? Jelas tidak kan? Pasti selalu dimulai dengan langkah yang pertama.” Kataku mencoba yakinkan Qima.
Ya, memang harus hati-hati aku berbicara. Aku bukan lagi orang yang memperdalam agama saat ini. Aku sudah menghentikan akses itu sejak empat tahun yang lalu sehingga jelas aku tidak memiliki hak menegurnya seperti ini. Sebab dia masih berjalan di atas titian cahaya itu. Sedangkan aku? Tapi meski aku nggak lagi perdalam agama, tidak berarti aku menghapus jejak-jejak agama itu dari dalam diriku bahkan hidupku. Aku bukan sudah merasa cukup dengan pengetahuan agama yang pernah kupelajari. Aku bukan juga sudah merasa sombong dengan apa yang kumiliki. Namun, aku hanya berpikir, biarlah pengetahuan ini sedikit asal bermanfaat. Dasar yang kuat lebih baik daripada dasar yang lemah tapi di luar kelihatan megah. Karena bagiku, dasar itu adalah pegangan yang membuat segala sesuatu tidak akan runtuh dengan mudah. Walaupun megah tapi runtuh terlalu cepat, aku sungguh tidak menginginkan hal itu.
“Sama seperti kita dan organisasi kita. Harusnya kita nggak boleh langsung melarang orang untuk seperti itu. Tapi ajarilah sedikit demi sedikit. Sekarang ini biarkanlah mereka berjalan apa adanya. Asalkan kita tidak meninggalkan tapi terus mengarahkannya, kita tidak akan kehilangan mereka dan harapan kita tentang mereka. Yang salah itu kalau kita langsung memaksa, wah jelas mereka akan mudah lari kan? So, pelan-pelan saja. Sedikit demi sedikit kita ajari mereka.”
Qima tertawa. Entah menertawakan apa atau siapa.
“Ok ok, baiklah kalau begitu. Begini saja. Okelah, anggap saja saya tidak tahu. Tapi kamu ingat kan organisasi kita itu intinya apa?” Qima mulai mengalah, aku hanya mengangguk. “Kalau begitu, jalankanlah yang menurutmu sesuai, tapi jangan sampai para petinggi tahu hal ini. Kalau petinggi tahu, kamu dan organisasimu pasti akan dipertanyakan.”
Aku lagi-lagi sedikit tertawa.
Menyembunyikan dari petinggi? Apa boleh bagitu? Kenapa? Apakah itu baik? Atau buruk? Kenapa harus disembunyikan?
“Hm…aku akan pertimbangkan.” Sahutku. Selanjutnya percakapan kami tak bisa kulanjutkan lagi. Handphone-ku yang bordering memaksaku berpisah darinya.
Saat meninggalkan kampus, hatiku kembali dirundung masalah. Ya, ini masalah untukku karena ini masalah yang harus kuselesaikan. Masalah ini adalah tugas baru untukku. Tugas baru yang pada dasarnya juga teguran untukku. Hm…

                                                                                    Maros, 18 Juli 2012

2 komentar:

  1. Hmmm....
    Nice Story!!! Two Thumbs Up!!!
    By the way...
    What your Org. at your Campus?

    BalasHapus