Rabu, 06 Juni 2012

GAPAIAN HATI


Oleh: ArineYuki AFz
“Zuri…aku suka kamu, bolehkah aku memilikimu?” kalimat itu segera saja membuat gempar di hati ketiga teman yang menemaninya di depan pepustakaan sekolah. Segera saja, semua mata orang-orang yang tanpa sengaja mendengarnya terarah ke luar jendela. Sebahagian, justru berlarian untuk mengintip.
“Woooiii…ada yang lagi nyatain cintanya wooii…!” teriak seseorang seakan sedang mengobral baju pada orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Kak Vier…Kak Vier ini ngomong apaan sih? Kak Vier jangan bercanda ah! Zuri nggak suka Kak Vier bercandain Zuri soal kayak ginian. Mentang-mentang Zuri ini adik sepupunya Kak Vier…Kak Vier jadi seenaknya bilang gitu ma Zuri…Kak Vier jadi seenaknya jadiin Zuri sebagai bahan latihan! Ogah ah, Zuri nggak mau ikut-ikutan!” ngomel gadis yang belum lama berjilbab itu. “Kak Ariyan…Kak Ariyan bilangin ke Kak Vier dong, Zuri nggak suka Kak Vier kayak gini!”
“Aku serius, Zur…aku nggak main-main! Aku…aku benaran suka sama kamu. Aku tahu aku terlambat, kalau saja waktu itu aku…mengatakannya lebih dulu, mungkin kamu masih akan ada di sisiku terus!”
Deg…kalimat-kalimat itu membuat Zuri tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia sangat terkejut mendengar ucapan Vier yang begitu serius. Tadinya, dia benar-benar tidak percaya akan kata-katanya. Tetapi kemudian ia menjadi tidak yakin. Sejujurnya, ia merasa bahwa Vier tidak pernah berkata seserius itu sebelumnya. Zuri lantas menatap Ariyan yang juga sedari kecil selalu bersama mereka, pemuda itu hanya mengangguk dengan wajah seriusnya yang khas di mata Zuri.
“Tapi aku sepupumu, Kak!” Zuri mencoba mengelak.
“Tidak, kau tahu kita bukan mahram! Bukankah kau juga hadir di pengajian kemarin? Ustadz Sofwan kan bilang, anak dari saudara kandung ayah atau ibu itu tetap bukan mahram dan dapat dinikahi!” sanggah Vier cetus.
Kali ini, Zuri tidak dapat berkutik. Seketika, hatinya bagai tersayat sebilah pisau yang tajam. Ada penyesalan di kedua bola matanya dan itu tampak nyata di mata Ariyan yang sangat mengenal sifat dan sikap-sikapnya. Ariyan sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, mata kanannya sedikit lebam yang juga terlihat di pipi kanan Vier. Dengar-dengar, keduanya berkelahi kemarin.
“Inikah sebabnya kalian berkelahi kemarin? Inikah sebabnya?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!!” Vier malah membentak dirinya.
Zuri menghela nafas, “Aku tak tahu…”
“Kamu bohong!” Vier bersikeras, memang pemuda itu telah berubah semenjak Zuri lebih memilih masuk organisasi Ikatan Remaja Harakat al-Islamiyah (IRHIs) yang ikut mewakili sekian ratus orang siswa muslim di sekolah dan mulai memakai kerudung penutup aurat yang dikenakannya sampai saat ini. “Kau pasti tahu mengenai perasaanmu sendiri. Ariyan bilang, kau juga menyukaiku sejak lama!”
“Kak Ariyan?!”
Pemuda yang rambutnya jabrik itu membuang muka ke tempat lain, “Maaf, dia memaksaku mengatakan yang sejujurnya tentang dirimu!”
Jawaban itu membuat Zuri menunduk.
“Zuri…aku tanya sekali lagi, maukah kau kembali ke sisiku?” sela Vier.