Oleh: ArineYuki AFz
“Zuri…aku
suka kamu, bolehkah aku memilikimu?” kalimat itu segera saja membuat gempar di
hati ketiga teman yang menemaninya di depan pepustakaan sekolah. Segera saja,
semua mata orang-orang yang tanpa sengaja mendengarnya terarah ke luar jendela.
Sebahagian, justru berlarian untuk mengintip.
“Woooiii…ada
yang lagi nyatain cintanya wooii…!” teriak seseorang seakan sedang mengobral
baju pada orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Kak Vier…Kak
Vier ini ngomong apaan sih? Kak Vier jangan bercanda ah! Zuri nggak suka Kak
Vier bercandain Zuri soal kayak ginian. Mentang-mentang Zuri ini adik sepupunya
Kak Vier…Kak Vier jadi seenaknya bilang gitu ma Zuri…Kak Vier jadi seenaknya
jadiin Zuri sebagai bahan latihan! Ogah ah, Zuri nggak mau ikut-ikutan!” ngomel
gadis yang belum lama berjilbab itu. “Kak Ariyan…Kak Ariyan bilangin ke Kak
Vier dong, Zuri nggak suka Kak Vier kayak gini!”
“Aku serius, Zur…aku
nggak main-main! Aku…aku benaran suka sama kamu. Aku tahu aku terlambat, kalau
saja waktu itu aku…mengatakannya lebih dulu, mungkin kamu masih akan ada di
sisiku terus!”
Deg…kalimat-kalimat
itu membuat Zuri tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia sangat terkejut
mendengar ucapan Vier yang begitu serius. Tadinya, dia benar-benar tidak
percaya akan kata-katanya. Tetapi kemudian ia menjadi tidak yakin. Sejujurnya,
ia merasa bahwa Vier tidak pernah berkata seserius itu sebelumnya. Zuri lantas
menatap Ariyan yang juga sedari kecil selalu bersama mereka, pemuda itu hanya
mengangguk dengan wajah seriusnya yang khas di mata Zuri.
“Tapi aku
sepupumu, Kak!” Zuri mencoba mengelak.
“Tidak, kau
tahu kita bukan mahram! Bukankah kau juga hadir di pengajian kemarin? Ustadz
Sofwan kan
bilang, anak dari saudara kandung ayah atau ibu itu tetap bukan mahram dan dapat
dinikahi!” sanggah Vier cetus.
Kali ini,
Zuri tidak dapat berkutik. Seketika, hatinya bagai tersayat sebilah pisau yang
tajam. Ada penyesalan di kedua bola
matanya dan itu tampak nyata di mata Ariyan yang sangat mengenal sifat dan
sikap-sikapnya. Ariyan sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, mata
kanannya sedikit lebam yang juga terlihat di pipi kanan Vier. Dengar-dengar,
keduanya berkelahi kemarin.
“Inikah
sebabnya kalian berkelahi kemarin? Inikah sebabnya?”
“Jangan
mengalihkan pembicaraan!!” Vier malah membentak dirinya.
Zuri menghela
nafas, “Aku tak tahu…”
“Kamu
bohong!” Vier bersikeras, memang pemuda itu telah berubah semenjak Zuri lebih
memilih masuk organisasi Ikatan Remaja Harakat al-Islamiyah (IRHIs) yang ikut
mewakili sekian ratus orang siswa muslim di sekolah dan mulai memakai kerudung
penutup aurat yang dikenakannya sampai saat ini. “Kau pasti tahu mengenai
perasaanmu sendiri. Ariyan bilang, kau juga menyukaiku sejak lama!”
“Kak
Ariyan?!”
Pemuda yang
rambutnya jabrik itu membuang muka ke tempat lain, “Maaf, dia memaksaku
mengatakan yang sejujurnya tentang dirimu!”
Jawaban itu
membuat Zuri menunduk.
“Zuri…aku
tanya sekali lagi, maukah kau kembali ke sisiku?” sela Vier.