Sabtu, 12 Mei 2012

Dunia Lain


Kira…Kira, kau dimana? Yuris…Dara…Anton…Mika…Garis…kalian semua di mana?" seruku ketakutan. Bagaimana tidak, aku berjalan sendiri dalam kegelapan. Aku tidak menemukan adanya lentera atau cahaya api kecil sekalipun. Bahkan aku kehilangan sahabatku Kira dan teman-teman yang selalu ada untukku dikala aku sedih. Tempatku berpijak saat ini, benar-benar gelap dan sunyi. Membuat…bulu kudukku terasa merinding.
Kucoba memanggil mereka sekali lagi. Namun…sepertinya sama saja, tak ada sahutan di sana. Ketika baru saja aku melangkah, sesuatu terasa menyambar rambut ikalku yang panjang. Menjadikan tubuhku terasa dingin dan tegang, rambutku bergerak mengikuti arah perginya sosok itu. Aku pun menoleh ke arah kanan bahuku, tapi aku tak menemukan siapa-siapa di sana. Bahkan kemana pun dan sejauh apa pun mataku memandang. Sebab semua tetap sunyi dan sepi, sedang tempat ini terasa tak berpenghujung.
"Garis…kaukah itu?" tanyaku mencoba melangkahkan kaki menuju arah dimana sosok tadi pergi, walau aku sendiri tak tahu pasti arahnya.
"Gariss…" panggilku lagi, penuh harap dan cemas. "Garis, kaukah itu?".
"Hai, sayang…" suara yang amat kukenal itu tiba-tiba berbisik tepat di telinga kiriku. Aku sedikit merinding ketika telapak tangannya terasa menyingkirkan rambut ikalku ke belakang dan kemudian menyelipkan bunga mawar merah di antara telinga dan rambutku, persis ketika pertama kali dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku.
 "Garis…?" ucapku sambil membalikkan tubuhku. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika tahu, pacarku tidak ada di belakangku. Aku justru melihat satu peristiwa yang tiba-tiba membuat ruangan gelap ini menjadi…sebuah tempat yang mulanya kukira syurga untukku. Garis yang memperkenalkan aku pada tempat itu. Dia yang pertama kali mengajak aku berkenalan dengan yang namanya ganja, sabu-sabu, ekstasi, minuman beralkohol, merokok, dan juga seks. Dan sekarang…aku menyaksikan diriku berada di diskotik itu bersama Garis, Yuris, Dara, Anton, dan Mika beberapa jam lalu. Ah, tidak, mungkin beberapa hari yang lalu atau sebulan yang lalu. Ah, aku tak tahu pasti. Yang jelas…aku sudah berada di tempat yang gelap tadi tak lama setelah pesta itu, setidaknya hal itulah yang kuingat.
Aku menyaksikan diriku sangat menikmati pesta itu, namun di sisi lain, aku melihat sesuatu yang aneh pada wajahku. Ah, ada apa ini? Aku tiba-tiba dibuat terkejut…entah berasal dari mana…entah terkena magic apa…yang jelas, minuman-minuman itu…obat-obatan itu…bahkan diriku pun dalam sekejap berubah menjadi sosok yang mengerikan. Ruangan ini kembali gelap dan mereka…mereka menemaniku! Mereka terus memajui aku. Aku jadi ketakutan, namun entah pada siapa aku mampu bersandar. Tak ada teman di tempat ini, kecuali sosok-sosok menyedihkan dan menyeramkan di hadapanku.
"Kenapa kamu memilihku? Kenapa kamu memilihku? Padahal kau tahu, aku bukan jalan terbaik atas masalahmu?" ganja, sabu-sabu, ekstasi, botol minuman beralkohol, dan sebuah batang rokok bertanya-tanya padaku dengan suaranya yang mengerikan membahana.
"A…Aku…"
"Hei…Nava, masihkah kau ingat padaku?" tanya si sosok berwajah hitam pekat dan berjubah hitam itu padaku. Kukunya nampak panjang terarah padaku, seakan hendak menerkamku hidup-hidup.
"Si…siapa kamu?" tanyaku balik, sekujur tubuhku terasa dingin dan gemetar.
"Oh…jadi kamu lupa?" sosok itu tertawa, memperlihatkan kedua giginya yang panjang dan berwarna merah. "Akulah dosamu! Kau…yang menciptakan aku!".
"Tidak! Kau bohong! Aku bukan Tuhan! Aku tidak mungkin menciptakanmu!!" teriakku ketakutan lantas membalikkan tubuh dan kemudian berlari dan berlari. Tapi, tubuhku tiba-tiba saja menubruk sesuatu. Aku lantas terjatuh.
"Nava…kamu jahat! Kamu jahat!" maki perempuan berwajah buruk itu. Wajahnya seperti terbakar sesuatu.
"Si…Si…Siapa kamu?" tanyaku semakin sesak.
"Aku adalah dirimu di masa yang akan datang! Inilah dirimu ketika kau di akhrat kelak!".
"Bohong! Itu tidak mungkin!" teriakku agak ngos-ngosan.
"Kamu masih menganggapnya bohong? Kamu masih menganggap kami bohong?" sosok berjubah hitam itu berbicara lagi.
"Nava…berubahlah, jangan jadikan dirimu seperti ini. Kembalilah ke jalan yang benar. Kau masih ingat impian kamu kan? Kamu masih ingat cita-cita kamu kan?"
"Impian…? Cita-cita…?" ucapku samar. "Nggaaaakk…pergi! Pergi kalian! Pergiiii…" berontakku marah lantas mendorong sosok diriku yang berwajah buruk itu, kemudian sosok berjubah hitam itu, lalu sosok menakutkan yang menyerupai ganja, sabu-sabu, ekstasi, botol minuman beralkohol, dan sebuah batang rokok tersebut. Namun mereka tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Aku kembali sendiri.
"Kakak…kakak…" dalam ketakutan dan tangisanku, seseorang tiba-tiba memanggil-manggilku. Aku lantas menoleh ke asal suara. Dan alangkah terkejutnya diriku saat kulihat sosok anak perempuan yang sempat kutabrak sebelum akhirnya mobilku menabrak pohon. Anak perempuan itu hanya bisa menyeret tubuhnya dengan bantuan kedua tangannya. Saat kumiringkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi dengan kedua kakinya. Perasaan nyeri dan jijik tiba-tiba merayapiku. Rasanya ingin muntah…kaki kanan anak itu hancur dan kaki kirinya terlihat sudah hampir putus. Bau menyengat tiba-tiba hinggap di hidungku.
"Siapa kau?" tanyaku galak.
Gadis kecil itu tersenyum. Ia lantas berhenti dan mengulurkan kedua tangannya padaku. Seakan membujukku untuk meraihnya.
"Kakak…kakak menghancurkan impian Adel. Kakak mengambil cita-cita Adel." Ucap gadis itu sedih. "Kakak…kita tukeran nyawa aja ya? Kakak kan udah bosan hidup dan Adel masih ingin hidup. Adel masih ingin mengejar impian Adel. Adel masih pengen jadi dokter. Boleh ya, Kak?".
"Apa?" aku benar-benar terkejut dibuatnya. Tanpa menunggu jawabanku, gadis itu maju dan terus maju hendak menghampiriku, "Pergiii…" teriakku lagi dan gadis itu tiba-tiba meleleh kemudian menyatu dengan kegelapan.
"Kakak…" kali ini, ada suara lain yang memanggilku. Aku menoleh lagi ke asal suara, lantas kudapati sesosok anak kecil penjual koran yang tempo hari kutendang hingga ia terkena gegar otak.
"Kau…" suaraku terasa tercekat.
"Mau apa kau?" tanyaku parau.
"Kakak…aku lelah menjual koran hanya untuk mendapatkan biaya pendidikan setiap hari. Kakak kan cuman menyia-nyiakan duit orang tua kakak. Kita tukeran tempat aja ya?" jawab anak lelaki itu dengan nada mengejek.
"Tidaaakkk…pergi!" lagi-lagi, aku hanya bisa meneriakkan hal itu. Aku lantas menyerang anak itu, namun dalam sekejap ia menghilang entah kemana.
Ah, siapa lagi…siapa lagi makhluk-makhluk yang aku sakiti? Siapa lagi yang akan datang memintaku bertukar nyawa dan tempat? Kalau kuingat, ada ratusan manusia yang kusakiti dengan harta yang kudapatkan dari orangtuaku. Kalau kuingat, ada ratusan bahkan ribuan orang yang menjadi tumpahan amarahku. Ah, maafkan aku! Tuhan…beri aku waktu untuk hidup lagi. Aku menyesal!
"Mama…" tak menyerah, kupanggil sosok yang seakan tak pernah ada untukku itu. Sosok yang telah melahirkan aku seorang, tetapi kemudian selalu meninggalkan aku yang kemudian hanya diasuh oleh para pembantu. Namun…sama saja, dari awal aku memang sudah menduganya. Sosok itu…takkan pernah perduli padaku.
"Papa…" kini, giliran lelaki yang asyik dengan dunianya itu yang kupanggil. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Padahal…aku tahu, panggilan itu akan tetap sia-sia. Papa orang yang terlalu sibuk dengan dunia bisnisnya. Dengan dalih untuk masa depanku juga, lelaki itu hanya menggerakkanku dari jauh dan memaksakan kehendaknya padaku layaknya seorang pawang pertunjukan boneka. Apa pun yang lelaki itu katakan, aku harus menurutinya tanpa membantah sedikit pun. Membuatku muak!!! Apalah artinya kekayaan tanpa kasih sayang dari mereka? Bagiku…percuma aku pergi ke sekolah setiap hari kalau hanya untuk menuruti nafsu mereka.
Deg…tiba-tiba, jantungku seakan berhenti berdetak. Sosok yang melintas dengan cepat itu muncul lagi! Kali ini, ia pergi ke arah kiriku. Secepat mungkin, aku menoleh untuk menangkap kehadiran sosoknya. Tapi, alangkah terkejutnya aku saat kulihat satu peristiwa tiba-tiba muncul di hadapanku dan dalam sekejap merubah suasana yang tadinya gelap gulita dan sunyi itu.
Setengah tak percaya, aku melihat sesosok gadis berjilbab putih yang berjalan di depanku dengan terburu-buru. Sekilas, aku sempat menangkap wajahnya yang putih berseri-seri. Ya…aku mengenal wajah itu! Itu…itu
"Kira!!" seruku kegirangan. Awalnya, gadis itu terus saja berjalan tanpa memperdulikan aku sedikit pun. Tapi sekali lagi aku tak ingin menyerah. Aku lantas berlari-lari kecil mengejarnya, namun entah tahu dari mana, Kira malah ikut berlari-lari kecil. Membuat jarakku dengannya tetap terjaga.
Aku hampir putus asa. Semakin kupercepat lariku, Kira selalu menyamainya. Tahu-tahu, kakiku tiba-tiba tersandung sesuatu. Tubuhku oleng, hilang keseimbangan…kemudian jatuh tersungkur. Ketika aku bangkit terduduk, aku terkejut, tanganku terus mengalirkan darah dari luka yang tertusuk oleh pecahan cermin yang entah dari mana. Takut-takut, kuusahakan untuk mencabut pecahan itu. Cukup sulit…tapi aku berhasil. Dan bersamaan dengan itu, sebuah telapak tangan terulur tepat di depanku.
Aku lantas mengangkat kepala.
"Kira?!" ucapku tak menyangka, sosok itu hanya tersenyum.
"Ayo berdiri!" ajaknya ramah.
Aku senang. Bahkan terlalu senang. Segera kusambut uluran itu. Tapi alangkah mengecewakannya, belum lagi kusentuh…Kira sudah menariknya kembali.
"Kira, kenapa?" terluka, aku bertanya padanya.
Lagi-lagi, Kira tersenyum. Satu sosok putih tak berwajah berdiri di sebelahnya dan entah mengapa…aku melihat ada sekelebat kesedihan di wajah Kira.
"Kau tak pantas mendapat uluran tangan orang yang berilmu!" sosok putih itu yang menyahut, suaranya terdengar amat garang dan memekakkan telingaku. Seketika, seluruh tubuhku terasa bergetar. Aku…aku…aku ketakutan! Sosok itu terlalu menakutkan untuk dipandang
"A…aku kan…o…orang yang berilmu juga!" kataku gugup.
"Berilmu?" sosok itu malah tertawa, membuatku sedikit marah. "Ya, kamu memang memiliki ilmu juga."
"Lan…Lantas kenapa?"
"Kenapa katamu?" sosok itu tertawa lagi, Kira kulihat tak bergeming di sampingnya. Gadis itu masih memandangiku seperti sebelumnya.
Tawa sosok itu tiba-tiba berhenti, membuat jantungku seakan copot sebab berlari terlalu cepat…cepat sekali.
"Kamu berilmu…tapi kamu tidak mengamalkannya dengan baik!" kecam sosok itu tiba-tiba.
"Tapi kenapa? Bukankah di dalam Al-Qur'an juga dikatakan bahwa orang berilmu itu sama derajatnya dengan orang yang beramal shaleh?" Dugem-dugem begini, aku juga masih ingat dengan ayat yang satu itu.
"Ya…ya…ya…kamu benar, memang telah dikatakan dalam Al-Qur'an mengenai hal itu. Tapi itu sama saja, kamu tetap tidak boleh menyentuh orang yang berilmu ini!" balas sosok itu ngotot. "Ayo kita pergi, Kira, kita tidak pantas berada di dekatnya!" ajak sosok itu pada Kira.
Kira hanya mengangguk. Sempat ia menoleh lagi padaku dan berkata maaf sebelum pergi. Melihatnya menjauh, aku semakin panik.
"Tunggu!!" seruku sekuat tenaga. "Kau belum menjawabku"!
Sosok itu berhenti, ia menoleh. Saat itu, aku pun seakan melihat matanya yang seperti mata elang sedang menatapku tajam.
"Karena kamu menyia-nyiakan kesempatanmu mengecam pendidikan yang begitu mudah kau dapatkan. Kamu tahu orangtuamu sanggup membiayaimu sampai kau sarjana sekali pun. Tapi kamu malah melakukan hal yang lain! Kamu malah tawuran…mengunjungi tempat yang haram…minum minuman memabukkan… memakai narkoba…melakukan perzinahan…bahkan mengadu guru agar mereka meminta kenaikan gaji. Padahal kamu sendiri tahu, apa yang mereka berikan untuk anak didiknya belum tentu dapat dinilai dengan harga yang tinggi. Kamu yakin kalau semua itu dapat mencoreng dunia pendidikan negaramu, tapi kamu pura-pura acuh!" sahut sosok itu membahana. "Dan Kira sudah menasehatimu, tapi kamu tak pernah mendengarkannya. Padahal, kau sendiri sempat menyadari kalau Kira satu-satunya sahabat sejati untuk dirimu. Sahabat sejati yang selalu menasehatimu ketika kamu khilaf dan mendukungmu ketika kamu memilih jalur yang benar. Tapi kamu mengacuhkan anak yatim berhati mulia ini. Kamu seenaknya saja menyinggung perasaannya tanpa perduli apa dia akan terluka atau tidak. Sungguh…kau tak pantas!!."
"Aku minta maaf! Aku…aku…tak bermaksud sepeti itu!".
"Maaf? Semudah itukah kau menginginkan maaf?".
"Izinkan aku berbicara, wahai Malaikat…" tak kuduga, gadis bersuara lembut yang sedari tadi diam itu memotong kata-kata sosok putih yang dipanggilnya Malaikat.
Semula, aku yakin sosok itu ragu. Tapi akhirnya ia mengangguk.
"Nava…kamu ingin maaf?" tanya Kira lantas berjongkok di hadapanku.
Aku mengangguk, "Ya, tolonglah aku, Kira…! Maafkanlah aku!".
Kira tersenyum, "Kalau begitu, kembalilah dan mintalah maaf pada Tuhan. Aku sendiri merasa tak pantas untuk memaafkanmu karena bagiku kau tak memiliki salah apa pun. Kembalilah pada orangtuamu dan mintalah maaf mereka atas sikapmu, mereka pasti mencemaskanmu. Jangan lupa membersihkan diri dan jauhi perbuatan hina yang selama ini kamu lakukan, kemudian temuilah aku di Mushallah sekolah kita. Aku akan membantumu mempelajari banyak hal. Lalu…tuntutlah ilmu, jangan sia-siakan sedikit pun kesempatan pendidikan yang kau dapat sebab tidak semua anak mendapatkan kebaikan yang sama seperti yang kamu dapatkan. Kemudian bangunlah negeri dengan ilmu yang kamu peroleh. Negara kita…oh tidak, tapi dunia…ya, dunia membutuhkan makhluk cerdas sepertimu. Dan…jangan sampai kamu mengecewakan orangtuamu lagi, terlebih-lebih Tuhan…"
Sampai di sini aku tak mendengar suara apa-apa lagi. Airmataku mulai meredupkan pandanganku. Tapi aku yakin, Kira dan sosok itu telah menghilang. Semua kembali gelap dan sunyi.
Apa yang terjadi denganku? Ada apa dengan diriku? Tanyaku dalam hati. Samar, kudengar ada suara tangisan di sekitarku. Aku tak tahu, apakah suara itu nyata ataukah tidak, aku…sudah terlalu takut untuk mengetahuinya.
"Nava…anakku!".
Mama?! Entah mengapa, ada kegembiraan tersendiri yang hadir dalam diriku saat mendengar suara itu. Ketika menyebut panggilan itu, ada kekuatan tersendiri yang tiba-tiba meresap dalam jiwaku. Ya…aku rindu mama.
"Nava…jangan tinggalkan Papa…Papa janji tidak akan memaksakan kehendak Papa lagi, asal kamu bangun…asal kamu menemui Papa lagi, Nak!" suara berat yang diiringi tangis penyesalan itu semakin memberiku energi.
Perlahan…namun pasti, aku terus mencoba membuka mata. Ah, kepalaku jadi sedikit pening. Pandangan masih kabur, tapi aku bisa lihat dan yakin itu memang mereka. Mereka ada di sini, disampingku, menungguiku layaknya orangtua pada umumnya.
"Papa…Mama…" ucapku lirih. Papa kudengar terkejut senang melihatku siuman dari tidur panjang, begitu pun dengan mama. Mereka memelukku dan menjanjikan berbagai hal atas keajaiban Tuhan.
Seminggu setelah kejadian itu, dokter memperbolehkanku pulang. Dengan membawa sejuta harapan, aku menemui Kira sesuai ucapannya dalam bunga tidurku, dua minggu kemudian. Dan aku pun hijrah. Begitu pula dengan mama papaku. Kini kami bahagia tanpa kekurangan satu apa pun. Dan sahabatku Kira telah menjadi saudara angkatku yang selalu mengingatkan kami atas tiap kekhilafan yang kami lakukan sekecil apa pun seperti dulu. Bedanya, sekarang aku mampu menasehati balik ke dia layaknya sahabat sejati yang pernah ia tawarkan padaku. Terima kasih, Tuhan…Terima kasih…Terima kasih atas nikmat yang kau beri.
***Selesai***
Maros, 8 Mei 2007

Nb: Cerpen ini telah memenangkan tempat ke-2 pada Lomba Baca Cerpen tingkat SMA se-Kabupaten Maros 2007 di Yapim Maros. Ketika itu, penulis adalah seorang siswi di sebuah SMA di maros bernama SMA Negeri 01 Maros

1 komentar:

  1. Sepertinya aku ingin bersetubuh dengan tulisanmu agar karya menjadi indah diakhirnya, Ku nikahi karyamu dengan karyaku http://indra-anwar.blogspot.com/2011/11/di-ufuk-barat-sana.html

    BalasHapus