“Please stop the
game!!!” kuteriaki langit yang seolah memiliki salah.
“Please stop the
game!!! Please help me!!!” pintaku lagi dalam kemarahan yang sangat.
“I beg you! I beg
you!! I beg you!!!” aku semakin meninggikan suaraku.
“Aku mohon!!! Aku
mohon hentikan permainan ini!!!” kata-kata selanjutnya keluar begitu saja di
tengah-tengah tangisanku. Aku lantas terdiam. Kupandangi langit yang seolah
hanya lukisan di mata yang penuh dengan air ini. Aku masih menangis keras untuk
beberapa saat, tetapi kemudian tangisan itu semakin lama semakin lemah. Saat
hampir usai dan perasaanku mulai tenang, terlintas lagi semua hal yang pernah
terjadi. Sesuatu dalam diriku pun tergetar kembali. Tubuhku mulai merasa lemas.
Kurasa, tenagaku sudah mulai terkuras. Dan lagi-lagi, kristal-kristal bening di
pipiku...mengalir...
“Aku
mohon...padamu...” terisak pilu...aku, terisak pilu. Kujatuhkan diriku. Lututku
sungguh tak mampu lagi menahan beban tubuh ini. Seolah dendam, kujajaki langit
biru di hadapanku. “Kumohon...hentikan...game-nya...”
^^^
“Siapa?” tanyaku
entah ke siapa.
“Siapa?” kutengok
sana sini, tapi tak ada satupun orang yang kutemukan mencurigakan di sekitarku.
Lalu lalang orang yang sibuk dengan pola masing-masing, jelas memberiku sinyal
bahwa bukan aku fokus mereka. Jelas menampakkan bahwa bukan aku objek mereka.
“Di mana? Apa?
Siapa? Kenapa?” kucoba melacak sesuatu itu. Sungguh, pagi itu aku merasa aneh.
Aku merasakan keberadaan seseorang yang sedang mengawasiku. Namun tindakan
orang ini tidak memberiku perasaan awas atau siaga atau semacamnya. Malah, aku
merasa sangat nyaman. Aku seperti...dihargai...disayangi...tapi siapa? Apa?
Dimana? Dan kenapa?
Aku menoleh ke
asal suara. Kusaksikan Revan di ujung sana. Dia melambai dan kuyakin dia sedang
tersenyum. Tanpa kudekati, Revan berlari kecil menghampiri tempat aku berdiri.
Dia terlihat lucu saat menghindari beberapa orang yang tanpa sengaja
menghalanginya berlari lurus. Seorang gadis imut yang sedang duduk di tengah
kawan-kawannya tampak mengawasi Revan. Revan sadar saat melewati dua mahasiswa
yang bercakap di tengah jalan. Revan lantas tersenyum dan menyapa si gadis. Ia
mendapat respon yang membuatnya terlihat lebih bahagia lagi saat membelakangi
si gadis.
Jelas bukan sahabatku itu...
“Zik, ni laporanku
dan ni ada titipan note buatmu.”
Sebuah kertas mungil berwarna biru dengan gambar dolphin lucu ikut diserahkan padaku.
Keningku mengerut,
“Apa ini?”.
Kupandangi Revan.
“Jangan tanya,
kamu tahu aku nggak tahu baca simbol-simbol itu.” Ia mengangkat kedua tangannya
setinggi bahu tanda benar-benar tak paham, itu kebiasaan dia yang kuketahui
tanpa sepengetahuannya.
Simbol? Satu
kata itu membuatku menengok baik-baik note
tersebut.
“Zas...” bisikku
refleks. “Zas! Ini dari Zas, Van! Ini dari Zas! Dimana kamu dapat note ini? Dimana, Van? Cepat beritahu
aku!” teriakku menggila, saking semangatnya.
“Cepat beritahu
aku, Van!”
“Hei hei
hei...tenanglah, Zik, ini tempat umum. Orang-orang lagi ngeliatin kita
gara-gara sikap konyolmu ini!” Revan malah menegurku. Cowok yang lebih
tingginya 175 cm itu berkata sambil mencoba tersenyum pada mereka yang lewat.
Jangan salah, sahabatku ini cakep loh! Populer pasti! Meski kuakui dia punya
banyak ‘adik’ pula pasti! Tapi jangan salah, para ‘adik’nya ini akur loh!
Hehe...maka dari itu dia ingin jaga imej-nya saat ini dengan bersikap...yang
sulit kudeskripsikan! Maaf ya...
“Van!” kutunjukkan
wajah kekanakanku yang cemberut.
Dia melihatnya.
Agak kesal, dia menjawab, “Parkir!”.
Tanpa berpikir
panjang, kuserahkan balik laporan Revan bersama laporan-laporan yang kupegang
tadi.
“Tolong ya, Van!” teriakku
lalu berlari ke sana secepat yang aku bisa.
Dia, orang, yang
hanya bisa kucintai sepihak dua tahun belakangan ini dan yang akhirnya membalas
cintaku. Dia, si penulis note, adalah kakak yang memperkenalkanku kembali pada
dunia tulis. Dia teman diskusiku dalam berbagai bidang. Pengetahuannya luas
sekali bagaikan jagat raya, utamanya tentang astronomi loh! Aku sendiri sangat
suka ilmu astronomi. Sayangnya, aku bukan mahasiswi astronomi dan universitasku
ini juga tidak punya jurusan astronomi.
Hehe...jadi nyasar
ya? Maaf.
“Hai.” Dia
menyapaku duluan saat aku mendekatinya malu-malu.
“K-Kapan kakak
datang?” Ya Tuhan, jangan tampakkan
kegugupanmu Zika bodoh!
“Baru saja.”
sahutnya sambil bergerak mengambil helm biru yang satunya. “Jalan sekarang
yuk!” ajaknya tanpa basa-basi, helm biru tadi disodorkan padaku.
Aku menerimanya
tanpa protes. Kuberi dia senyum dan dia tersenyum balik. Aku suka sanyumnya...sangat suka! Kya!! Ekspresiku seperti sedang
berteriak gembira saat duduk di belakangnya.
“Aku mau balap,
jangan banyak gerak ya!” katanya, seperti tahu apa yang kulakukan di belakang
meski aku tak mengeluarkan suara sedikit pun.
“Apa?” aku tak
terlalu mendengarkan kalimat pertamanya.
Brum!!!
“Ups!” aku
terkejut, dia meng-gas tiba-tiba motornya. Nyaris saja aku protes, tapi aku
ingat kalimat ke-duanya tadi,
Motor melaju
cepat. Aku sedikit merasa takut. Ingin rasanya aku memeluk tubuh Zas dan
menjadikannya pegangan. Namun, sesuatu dalam diriku seolah berteriak “Jangan! Dia ini orang yang sangat baik!
Jagalah ia jika kamu benar-benar ingin jadi miliknya!”.
^^^
Untuk ke sekian
kalinya, Zas mengajakku date. Dia
benar-benar mengajakku keliling layaknya sepasang kekasih yang masih remaja.
Dia mengajakku makan siang, nonton, dan jalan-jalan tanpa sedikit pun
menyentuhku. Aku sampai merasa sangat dihargai dan dihormati hakku olehnya.
Aneh memang pendapatku ini, jika itu yang sedang kamu pikirkan. Tetapi, inilah
aku! Aku Zika si pelancong dunia tulis yang suka baca teenlit atau novel remaja.
Aku Zika yang selalu memimpikan ‘pacaran ala remaja’ di novel-novel yang sudah
aku baca. Aku Zika yang masih punya akal sehat untuk kupakai berpikir! Aku Zika
yang tahu batasan ‘berpacaran’. Aku Zika yang tahu harus menghargai dan
menghormati tubuhku sendiri. Aku Zika yang tahu mana baik dan mana buruk untuk
kulakukan saat pacaran. Aku Zika yang masih punya...agama yang kupercayai.
“Zika...malam...”
Zas menyadarkanku pada suasana alam saat kami sudah keluar dari mall.
“Mall memang
tempat kita bisa lupa waktu! Untung kakak masih nyadar waktu sholat tadi, jadi
sholat kita nggak bolong deh. Makasih ya, Kak...!” kataku spontan. Ups... “Hehehe...” aku terkekeh kecil
sambil tersenyum tak enak hati.
Dia memandangku,
“Ternyata kamu punya lesung pipi ya, de’? Kamu terlihat...manis...”.
Ya Tuhan! Malam! Malam pembawa bencana! Teriakku dalam hati. Aku risau, tapi segera kutepis
perasaan negatif itu. Aku lantas tertunduk malu. Tahu-tahu, ia memegangi daguku
dan mengangkat wajahku.
Deg...deg...deg...jantungku berdetak aneh saat wajahnya semakin mendekat.
Kira-kira, dua jari dari bibirku, ia tiba-tiba menurunkan tangannya dan
tertunduk. Zas tegap kembali dan buang muka ke arah lain. Sambil mengusap
wajahnya dengan kedua tangan, ia berkata, “Maaf...”.
Dia nyaris
menciumku! Iblis sang magrib telah bergerak!
Zas...sejenak,
kupikir itu sebuah tindakan yang kurang ajar dan memalukan. Hampir saja aku
pergi meninggalkannya. Ya, kedua kakiku telah beranjak!
“Zika, tunggu!”
film banget...Zas menghentikanku dengan menarik tanganku. Tanpa menatapku, dia
langsung menarikku ke arah motornya. Dipakaikannya helm itu padaku, lagi-lagi
dia tidak melihatku. Dalam diam, dibawanya motor itu melaju.
“Zik...aku punya
game! Mau nggak ikutan main game ini? Game ini cuma untuk kamu dan aku!”
teriaknya tiba-tiba setelah diam cukup lama.
Game adalah
salahsatu hal yang sangat kusukai. Zas tahu banget itu. Tapi, apa maksudnya dia
menawarkan bermain game di saat seperti ini? Dan game apa itu?
Seolah menyahuti
pertanyaanku, dia berkata, “Game ini namanya Game Rindu!”
“G-Game Rindu?”
tanyaku balik.
Dia lantas
memperlambat motornya lalu berhenti di sebuah warung sara’ba yang terang. Kami
masuk, dia pesan beberapa gorengan dan sara’ba untuk dua porsi.
“Jadi gini...” dia
memulai begitu bagianku sudah kuhabiskan separuh. Dia sendiri sudah
menghabiskan hampir semuanya. Kurasa dia lelah habis bawa motor ninja itu
seharian penuh.
“Game ini...kita
tidak boleh saling menghubungi selama yang kita bisa. Tidak boleh nelpon, sms,
ataupun menyapa. Jika kita memang saling mencintai, pasti akan ada rindu...di
hatimu...maupun di hatiku! Dan jika dalam masa game ini berlaku, salahsatu di
antara kita menghubungi yang lain karena alasan...rindu...itu...maka...orang
yang menghubungi itu kalah dan...sudah pasti...yang dihubungi tidak boleh
lagi...memiliki...perasaan...cinta itu, Zik...”
“T-Tidak boleh
lagi???” mataku nyaris keluar dibuatnya. “Tapi itu kejam namanya!”
Dia hanya terdiam,
ekspresinya aneh. Matanya jadi sayu...tapi tiba-tiba terlihat kokoh saat ia
berujar lagi, “Game ini...hanya boleh berakhir, jika pihak pria datang melamar
pihak wanita. Dan aku...aku akan bermain serius di game ini karena aku...aku sangat
mencintaimu, Zik! Apa kamu juga...akan bermain serius di game ini?”. Duar!!
Bagaikan petir yang menyambar, kalimat terakhir Zas sangat menorehkan luka
bagiku.
“Jadi,
Zik...ini...menjadi hari terakhir kita...bertemu, Zik! Aku tidak akan
menghubungimu sampai tiba masa dimana aku memintamu secara resmi. Aku akan
menahan diriku sebisaku, meski rasanya sangat sakit. Apakah kamu
bersedia...memainkan game ini...bersamaku...Nur Azighah Deana?”
Deg! Dia serius!
Tapi aku tak bisa menjawabnya sekarang. Dalam perjalanan pulang pun aku belum
bisa berkata apa-apa. Rasanya tega sekali dia berbuat begini padaku! Dia
mengenalkan aku cintanya, lalu dia membuangku sesuka hatinya! Apanya yang
sangat mencintai jika seperti itu??? Cowok bodoh!!!
“Baik! Aku akan
ikut permainan ini!!!” jawabku lalu membanting pintu di hadapan Zas saking
kesalnya aku pada game yang dia tawarkan itu. Bunda kosanku sampai keluar untuk
memarahi aku dua kali lipat, satu untuk pintu dan satu untuk cowok baik hati di
matanya itu.
Zas...
Sebuah
pesan singkat masuk ke hp-ku. Isinya, “Believe
me please!! Always love me please!! Cuz I will always believe u and love u, my
dear little dolphin!!”
Message selanjutnya
masuk lagi, “Tuliskan aku dalam SEJARAHMU ketika kau rindu padaku, my dear...”
^^^
Tapi aku rindu padamu saat ini!! Aku rindu dan merasa
kesal meski sudah menuliskanmu dalam sejarahku!! Aku merasa kesal karena hatiku
masih bergetar! Aku merindukanmu, Zas! Aku sangat merindukanmu!! Kumohon
hubungi aku meski itu hanya satu kata! Aku mohon hubungi aku meski itu hanya
satu kata!! Hatiku pasti tenang setelahnya...hatiku pasti tenang setelahnya.
“KUMOHON HENTIKAN GAME INI, ZAS!!!”
Maros,
21 September 2011
[Cerpen ini telah diterbitkan di IDENTITAS kampus merah]
[Cerpen ini telah diterbitkan di IDENTITAS kampus merah]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar