Selasa, 17 Januari 2012

Animal Communicator

[oleh ArineYuki AFz]

Prologue
“Lucky, ayo berdiri!” pinta seorang anak laki-laki yang sedang bermain di taman. Tak jauh di depannya ada seekor anjing yang sedang bersantai sambil memandang sekitarnya. Saat anak laki-laki itu berkata seperti tadi, anjing itu terbangun dari posisinya.
“Lucky, berlari kemari!” dalam satu perintah, anjing itu berlari ke arah si anak laki-laki.
“Good, Lucky! Anjing pintar...aku sayang padamu! Iiihhh...!” penuh sayang, dia memeluk si anjing. Meski sendiri dan tak punya teman, si anak laki-laki itu tampak sangat bahagia. Ia seperti asyik bercengkrama dengan si anjing.
“Shiki, apa yang sedang kamu perhatikan?” seorang wanita berumur sekitar 30-an tiba-tiba menegur.
Anak laki-laki yang ditegur itu lantas menoleh.
“Ibu?”
Wanita itu tersenyum, “Apa yang sedang kamu perhatikan, Nak? Ibu memanggilmu dari tadi loh...! Ibu memanggilmu berkali-kali tapi kamu tidak juga menoleh. Ada apa?”.
Shiki hanya menatap ibunya agak lama. Lalu, tanpa menyahut, ia menoleh kembali ke depan. Wajahnya terlihat sangat serius. Sang ibu sampai merasa terabaikan. Hampir saja ia menarik Shiki, tetapi ia tiba-tiba disadarkan oleh sesuatu. Ditariknya kembali tangan kanannya yang hampir menggapai lengan Shiki. Ia lantas menatap wajah putra kecilnya itu.
“Kadang anak memang tidak bisa mengungkapkan apa keinginannya. Sebagai ibu, kamu memerlukan kesabaran penuh untuk mencari tahu sendiri apa yang ada di pikiran anakmu yang pendiam. Cobalah perhatikan gerak tubuh, ekspresi wajah, dan pandangan matanya lalu cobalah menempatkan dirimu sebagai dirinya. Kita orang dewasa pernah menjadi anak kecil, aku yakin kamu akan bisa menemukan apa yang sedang anakmu pikirkan. Kamu harus ingat, anak kecil itu memiliki imajinasi yang tinggi. Anak-anak selalu penuh dengan rasa ingin tahu. Anak-anak juga selalu ingin mencoba apapun yang mereka lihat. Saat mereka menginginkan sesuatu, kamu harus menjelaskan dengan seksama apakah kamu menginjinkan mereka melakukan sesuatu atau tidak. Dan ingat, jangan sampai kamu tidak menjelaskan apapun karena tidak adanya penjelasan akan membuat anak salah melakukan sebuah tindakan...atau yang biasa kita sebut sebagai...sebuah kenakalan.” Tergiang kembali di benaknya penjelasan sahabat dekatnya yang seorang psikolog tadi, sewaktu konsultasi di ruangannya.

 
Ya, ada masalah dengan anak kandungnya itu. Seringkali dia melihat anak-anak kecil lainnya aktif melakukan berbagai hal, tapi tidak dengan anaknya. Anaknya itu agaknya pasif, dia lebih suka duduk terdiam dan memperhatikan daripada bergerak atau beraktivitas seperti anak kecil lainnya. Dia khawatir kalau-kalau anaknya itu memiliki kelainan. Maka dari itu dia pernah memutuskan untuk membawanya ke dokter anak. Namun, setelah dilakukan berbagai tes, tiga dokter yang pernah didatanginya menyarankan si ibu ke psikolog anak. Dan di sinilah dia, di tempat praktek sang teman.
Aku ingat, ini bukan yang pertama kalinya Shiki terdiam ketika ada anak-anak yang sedang asyik dengan binatang. Apakah Shiki juga menyukai binatang? Itukah yang dia inginkan? Selama ini, tak pernah sekalipun Shiki merengek meminta sesuatu.
Si ibu lantas berjongkok, mencoba sejajari tinggi sang anak. Dengan gerakan lembut, ia membuat Shiki menatap matanya.
“Shiki sayang...Shiki suka binatang?” tanya sang ibu. “Yang di sana itu adalah binatang, namanya anjing. Ibu sering lihat Shiki memperhatikan anak-anak yang punya binatang, apa Shiki ingin juga punya binatang?”.
Dalam diam dan tanpa perubahan ekpresi, Shiki menatap sang ibu dan anak laki-laki di sana secara bergantian. Ia tidak mengatakan apa-apa.
Umurnya sudah dua tahun, tapi dia belum juga pandai berbicara... (usia berapa sih anak kecil sudah pintar mengucapkan sebuah kata?)
Kalau dia tidak mengucapkan apapun saat kamu berbicara dengannya, cobalah dengan menunjukkannya secara langsung. Misalnya, memperlihatkannya barang-barang yang kemungkinan dia inginkan. Jika dia menatapnya terlalu lama, ada kemungkinan itulah yang dia butuhkan. Tetapi jika dia mengabaikannya dengan cepat, berarti bukan itu yang dia inginkan...”
Nak, apa salahku, Nak...sang ibu hampir berputus asa. Ia menundukkan wajah saking tak kuasanya ia menahan emosinya. Apakah ini...akibat dari...aku meninggalkanmu sendiri begitu lama...?
“Cobalah langsung memperlihatkannya...” kalimat itu seolah menjawab pertanyaan hatinya.
“Baiklah...” ia bangkit. “Ayo ikut, ibu akan menunjukkan sesuatu padamu.”
Mereka keluar dari bangunan itu dan pergi entah kemana...
^^^
~One~
“Ahahahaha...” anak-anak di meja sebelah tiba-tiba ngakak serempak.
“Igung, kembali!” teriak salah satu dari mereka. Yang dipanggil lantas keluar dari dalam tas seorang gadis, sigung kecil! Itu sigung kecil yang baru saja keluar dari dalam tas! Sigung itu seolah tertawa mengejek. Hewan itu lantas melompat ke pangkuan si gadis dan dengan cepat ia melompat ke lantai. Dia berlari ke arah meja anak-anak yang tertawa tadi dan melompat ke arah tuannya. Ia naik ke pundak sang tuan.
“Anak-anak kurang ajar!!” umpat teman gadis yang dikerjai oleh mereka itu. “Akan kubalas kalian!!”
“Nuki, tenanglah! Aku baik-baik saja.” si gadis yang diusili itu justru menegur kawannya.
“Tapi, Amucchi, mereka itu sudah jahat sama kamu...! Aku jelas nggak tenang kalau kayak gini...! Aku harus melakukan sesuatu, Am, setidaknya aku negur mereka.” Nuki melembutkan suaranya saat berbicara dengan gadis berambut gaya japanese itu.
“Coba saja kalau kamu bisa!” tantang si pemilik sigung itu.
“Rrrrr...awas kau, Tobi! He! Ivan jelek, jangan diam saja lo!” Nuki mengacung-acungkan tinjunya dengan suara yang teramat kesal. Diliriknya cowok yang duduk di sebelah kiri Ivan, matanya berkilat aneh.
Cowok itu hanya buang muka.
“Apa lo!” Tobi berdiri menyambut teriakan Nuki. Ia melangkah keluar dari tempat duduknya. Bersama sigungnya, mereka nyaris saja menantang duel jika tidak dihentikan langkahnya oleh Ivan yang menghalangi dan mendorong kembali.
“Van, dia udah ngejek kamu, Van! Ini nggak bisa dibiarin!” Ryuu emosi.
Ivan malah tersenyum evil, “Menurutmu, apa aku ini jelek?” Ivan malah bertanya pada Ryuu. Tapi ia tidak menoleh ke pemuda itu, matanya lurus menatap gadis yang terkena usilan sigung tadi.
Yang ditanya tak menyahut. Ia agaknya terkejut karena mendapat pertanyaan yang aneh. Tidak, bukan, bukan karena itu. Ada yang aneh dengan kalimat itu. Seolah, Ivan justru menghakiminya. Seakan dirinyalah yang mengejek Ivan. Ryuu lantas segera duduk kembali dengan ekspresi tidak suka.
“Kalau begitu, kamu tak perlu menanggapi mereka. Aku jelas tidak jelek kan?” ia kembali duduk di tempatnya.
Tobi memandangi Ivan dan Nuki secara bergantian. Matanya berkedip-kedip tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Dalam hati, dia bertanya-tanya, “Ivan membela mereka atau apa sih?”. Ditengoknya kawan-kawan yang lain, sementara Ivan sibuk dengan Stralator[1]-nya. Namun, mereka hanya mengangkat bahu.
“Buat dulu hewan kamu bisa masuk lagi ke Breliteen[2] ini, baru kamu bisa berlagak jagoan! Hewan sih memang buas, tapi sayang...dilarang masuk kantin!” sindir Ivan masih bermain.
Serempak teman-temannya tertawa lagi.
“Yang satu, hewannya tidak boleh masuk daerah tertentu. Yang satu, hewannya cuma hewan pecundang. Dan yang satunya lagi, tidak punya hewan sama sekali. Ahahaha...betapa komplitnya kelompok pecundang mereka! Ahahahaha...” salahsatu cewek dalam kelompok Ivan bersuara.
“Benar banget tuh, Rose! Aku heran deh, kenapa orang-orang malah menyebut si Amucchi itu sebagai gadis tercantik di sekolahan ini. Apa gunanya cantik kalau tidak punya hewan? Bukankah itu namanya penipu? Bagaimana kalau kita panggil saja dia Pinokio?”
Brak!! Lagi-lagi Nuki mengamuk.
“He! Kamu jangan asal ya! Temanku ini bukan tidak punya kemampuan apa-apa tauk! Temanku ini juga orang luar biasa seperti kita! Dia pasti punya kemampuan dan aku percaya itu akan muncul jika tiba masanya!! Kalau nanti kemampuannya muncul, awas saja kalian!!” ngomelnya sambil berdiri menunjuk-nunjuk, menantang anak-anak itu dengan gayanya yang sedang kesal. “Dia memang cantik kok! Lebih cantik dari cewek manapun di sekolahan ini! Nama Pinokio juga tidak terlalu buruk, toh Pinokio pada akhirnya bisa jadi manusia asli kan di ceritanya.”
“Nuki...kamu bicara apa sih? Lihat, kata-katamu hanya membuat sedih Amucchi!” kini giliran Sakura yang menegur Nuki. “Amucchi...sudah yuk, kita ke kamar mandi. Kelas bentar lagi mau mulai, badanmu harus dibersihkan dulu.”
Dibantunya Amucchi berdiri.
“Ya, pergi saja sana, cewek bau! Dasar Pinokio!” Jane berdiri dari kursinya dan kembali mengejek.
“Jane, emangnya Pinokio itu apa sih? Bukankah nama itu masih cukup bagus baginya?” Tobi bertanya dengan suara cukup keras.
Jane hanya tersenyum-senyum mengejek.
Rose mengambil alih dengan gayanya yang centil, “Pinocio itu...Pi, picik!”
“No, norak!” Jane membantu.
“Ki, o, kira-kira oi! Ahahahaha...” Rose tertawa bersama Jane, mereka saling bertos-tosan.
“Huuuuu...! Ahahahaha...” bersama-sama, mereka meneriaki Amucchi dan teman-temannya yang melangkah menjauh.
Amucchi menatap Sakura yang menatapnya dengan prihatin. Nuki mengancam kelompok Ivan dengan tinjunya. Sakura lantas melotot pada Nuki seolah menegur, “Nuki!” Nuki pun menundukkan kepala tanda menyesal.
“Maaf...” katanya.
Amucchi menoleh pada Nuki.
“Maaf, Mucchi...hiks hiks...” cengeng-nya keluar begitu mereka hilang dari pandangan Ivan Cs, ia memeluk Amucchi dengan wajah jeleknya yang sedang menangis sedih. “Aku nggak tahu kalau tadi artinya jelek. Maaf, Mucchi...hiks hiks...”
Amucchi memberinya sebuah senyuman yang dia bisa, “Nggak apa-apa kok, Nuki. Mungkin mereka memang benar kok, tanda yang kupunya bisa saja tanda yang palsu. Mungkin tempatku memang tidak seharusnya di sini. Anak-anak yang lain kemampuan Ancor-nya sudah keluar di usia 7 tahun. Sedangkan aku...di usia 12 tahun ini...kemampuanku belum juga kelihatan...”.
“Oh Amucchi sayang...jangan berkata begitu dong...!” Sakura mencoba menghibur Amucchi. “Sudah ya? Yuk, jalan...”
“Owh...apa ini? Bau sekali?”
“Iya ya...bau sekali...” orang-orang di sekitar mereka tahu-tahu menutup hidung ketika Amucchi Cs melintas.
“Kawan-kawan, kalian mau tahu siapa yang menyebarkan bau busuk ini?” sebuah teriakan yang berasal dari depan kantin menarik perhatian mereka dalam seketika. Sakura dan Nuki menoleh, dilihatnya si kembar Rose dan Jane dengan gaya sinis menatap balik mereka.
“Si cewek cantik tapi nggak punya hewan itu yang bau!” teriak Rose.
“Apa? Cantik katamu? Nggak punya hewan dibilang cantik? Nggak salah tuh? Bukankah sekolah kita adalah sekolah orang-orang yang punya kemampuan mengendalikan hewan? Kita ini Ancor dan setiap Ancor harus punya hewan! Dia? Punya hewan pun tidak! Jangan-jangan, dia palsu lagi! Huh!” Jane menimpali. “Lagian, apanya yang cantik kalo pakaiannya serba hitam? Itu namanya norak! Nggak punya gaya! Kira-kira dong kalo dandan!”
“Wah, Pinokio dong?”
“Pi-picik!”
“No-norak!”
“Ki,o,kira-kira oi!!”
“Ahahahaha...” Rose dan Jane tertawa bareng.
Mendengar itu, anak-anak yang lain malah tidak ada yang ikut tertawa. Memang sih mereka tidak ada yang tertawa. Tetapi, beberapa mulai termakan ucapan si kembar jahat itu. Mereka saling berbisik-bisik satu sama lain. Ada yang terang-terangan menatap sinis dan ada yang tak ingin menunjukkannya. Beberapa dari mereka langsung menghindar begitu ditatap oleh Nuki atau Sakura, kedua sahabat Amucchi itu tampak geram. Amucchi sendiri hanya terdiam.
Dia...cih! Akan kubalas...
^^^

~TWO~
Kenapa harus dia? Kenapa harus si anak cengeng itu? Kenapa aku harus jagain dia? Memangnya siapa dia? Siapa? Kenapa?
“Aaaaaa!!!” teriak Ivan sambil mengacak-acak rambutnya, sore itu di kamarnya.
Van, kamu harus jagain cewek yang bernama Amucchi! Kalimat itu tiba-tiba tergiang di telinga Ivan. Seketika, Ivan menggerutukkan giginya. Wajahnya memerah, seakan hendak meletuskan magma kemarahan yang ada dalam diri.
“Sial! Ukh...” tubuhnya tiba-tiba oleng. Untung dia sudah di kamar. Ia lantas menghampiri ranjangnya dan berbaring di sana. Di tutupnya matanya sejenak. “Sial...belakangan ini tubuhku terasa cepat letih hanya gara-gara mengingat kata-kata kakak...”
“Meong...” seakan mengerti ucapan tuannya, seekor kucing hitam yang baru saja masuk lewat jendela, menyahutinya sekali. Kucing itu melompat turun. Ia lalu berjalan ke arah ranjang sang tuan, melompat ke atas, dan berbaring di atas sana setelah merenggangkan tubuhnya.
“Neko...aku masih tidak mengerti...kenapa aku harus jagain cewek itu...?” tanya Ivan.
Lagi-lagi seperti menyahuti sang tuan, si kucing mengeluarkan suaranya sekali.
“Neko...apa istimewanya gadis itu...? Hewan saja dia tidak punya, padahal dia ada di pulau IVKA ini. Bukankah...sudah jelas-jelas bahwa...pulau IVKA ini...hanya dihuni oleh orang-orang spesial yang memiliki tanda aneh ini...?” Ivan menggerakkan telapak tangannya ke atas, tepat di depan wajahnya. Ia membuka handband yang sedang dipakainya. Tampaklah gambar aneh yang terletak di pergelangan tangannya. Gambar itu seperti sebuah seluet bayangan yang warnanya biru muda. Bentuknya hingga sekarang dan entah sampai kapan, masih belum dapat dijelaskan dengan sebutan bentuk apapun. Yang mereka tahu dan yang para tetua tahu, gambar itu melambangkan bahwa orang yang memilikinya adalah orang-orang yang spesial seperti seluruh orang yang tinggal di pulau ini. Mereka menyebut diri mereka...Ancor.
Ancor adalah singkatan dari Animal Communicator. Para Ancor dikatakan spesial karena mereka mampu berkomunikasi baik dengan binatang. Boleh dibilang, mereka adalah para penjaga binatang-binatang yang ada di muka bumi ini. Hanya saja, tidak sebatas menjaga dan berteman, mereka juga memiliki kemampuan lebih seperti mampu menggunakan keahlian binatang tersebut. Meski demikian, ini tidak berarti bahwa seorang Ancor dapat berkomunikasi dengan seluruh jenis hewan yang ada. Masing-masing Ancor hanya akan dapat berkomunikasi dengan satu jenis hewan saja, sesuai dengan panggilan sinyal Animal Soul yang ada dalam diri mereka. Hal ini biasanya ditandai dengan reaksi yang terjadi antara tubuh si Ancor itu dengan hewan yang berada di sekitarnya. Biasanya, pada usia 7-9 tahun, mereka akan didekati seekor hewan. Hewan itulah yang akan menjadi partner mereka sekaligus penghubung mereka dengan seluruh jenis hewan itu. Dan di usia 10-12 tahun, secara alamiah juga, mereka sudah mampu menggunakan Brain Telepathy (Intel) yang berfungsi sebagai jalur komunikasi si Ancor dengan hewannya. Pada usia 13 tahun ke atas, mereka sudah mampu menggunakan keahlian hewan mereka.
Keahlian mereka tentu aneh bagi manusia umum karena hal tersebut tidak biasa. Ada mitos yang beredar bahwa hal yang tidak biasa itu adalah sebuah kutukan syaitan yang perlu dihilangkan dari muka bumi. Sehingga, banyak dari mereka dikejar dan dibunuh. Sekalipun mereka dianggap istimewa, manusia umum akan menyerang mereka dan menangkap mereka untuk dijadikan budak. Padahal, mereka pun sebenarnya adalah manusia biasa yang hanya kebetulan diberikan amanah oleh Tuhan untuk menjaga hewan-hewan yang ada. Perburuan, pembunuhan dan perbudakan terhadap mereka ini tentu bukan hal yang manusiawi. Jika keadaan terus berlanjut, mereka tidak akan mungkin dapat hidup dengan damai. Sehingga, suatu hari, beberapa Ancor-Ancor hebat memutuskan untuk mengevakuasi seluruh Ancor ke sebuah daerah terpencil yang jauh dari jangkauan manusia umum. Di daerah itu mereka bermimpi dapat membangun sebuah masyarakat Ancor yang sejahtera, aman, dan sentosa. Namun perpindahan pertama masih membawa bencana bagi mereka. Dan pemindahan kedua merekalah yang berhasil. Pemindahan kedua itu adalah pemindahan ke sebuah pulau terpencil yang tidak dapat diperkirakan di peta manusia. Pulau inilah yang disebut pulau IVKA, tempat dimana seluruh Ancor dapat tinggal dengan aman sambil terus menjaga para binatang. Di pulau ini mereka membangun sebuah peradaban masyarakat Ancor yang tidak terikat dengan peradaban manusia umum. Dan di pulau ini, hanya ada mereka, para manusia spesial yang memiliki tanda aneh dan kemampuan khusus berkomunikasi dengan hewan.
“Usia 9 tahun harusnya dia sudah punya hewan partner. Tapi kenapa sampai di usia 13 tahun saja dia belum punya? Apakah tanda di telapak tangan kanannya itu palsu?” tanya Ivan sambil terus menatap tanda aneh di pergelangannya itu. “Ini benar-benar aneh...sangat aneh...apa tanda di telapak tangannya itu palsu? Bukankah pulau ini hanya khusus untuk orang-orang yang punya hewan partner? Semua orang di pulau ini sudah punya hewan partner di usia 7 tahun. Yah, memang ada juga sih yang terlambat. Tapi legenda Ancor mengatakan bahwa kami masih bisa memilikinya di usia 9 tahun. Dan memang semua Ancor di pulau ini, menurut catatan kakak, semuanya tidak pernah melebihi usia 9 tahun...”
Tuan belakangan ini memikirkan Amucchi terus ya. Dan Tuan juga mencuri baca catatan kakak Tuan lagi tampaknya.” sebuah suara tiba-tiba masuk ke kepala Ivan.
Ivan jelas terkejut. Ia lantas bangkit terduduk dari baringnya, kedua tangannya dai penopang tubuh. Ditengoknya sana-sini, “Siapa itu?”
Si kucing yang masih belum disadari Ivan, terbangun. Ia bangkit berjalan naik ke pangkuan sang tuan, “Aku di sini, Tuan.” si kucing menjilati bulu tangannya.
“Neko?”
Ya, Tuan?
Mata Ivan lantas membulat, ia tampak setengah percaya. Ditatapnya Neko lama. Kucing itu hanya asyik bermain dengan bulunya. Ia lalu berhenti. Dibalasnya tatapan Ivan, “Ada apa, Tuan? Apakah ada yang aneh?”.
Ivan tersenyum, “Tidak, Neko, aku hanya senang karena akhirnya aku menuju tahap Intel. Kupikir, aku akan melewati usia 12 tahun ini tanpa mendapatkan Intel yang akan membuatku jadi the loser. Aku takkan berani menatap teman-temanku jika itu benar-benar terjadi...” ujarnya lantas berbaring kembali.
Tuan terlalu memusingkan banyak hal. Bahkan, untuk hal yang kecil seperti itu pun jadi bahan pikiran Tuan. Padahal, itu samasekali tidak ada pentingnya.
“Tidak ada pentingnya?” Ivan bangkit lagi. “Neko, kau...”
Ya, Tuan?
Ivan hanya diam.
“Kau...” ia terdiam lagi. Ditatapnya Neko lama. Sebenarnya ia hendak mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa, tiba-tiba ada rasa aneh yang membuatnya tak mampu berujar. “Sudahlah. Aku lelah. Aku harus tidur, Neko. Pergilah bermain!”.
Tuan...
“Bangunkan aku jam 4, Neko, aku harus bertemu teman-temanku di tempat biasa!” katanya sambil membalikkan badan tanpa membuat Neko terpaksa pindah dari pangkuannya.
Neko hendak berkata lagi, tetapi diurungkannya niat itu. Ia pun menghela nafas dan hanya mampu berujar, “Baiklah, Tuan.” ucapnya lalu turun. Ia menghampiri jendela, melompat ke atasnya, menoleh sebentar ke arah sang Tuan, lalu menghilang dari balik gorden putih itu.
“Kenapa? Kenapa cewek itu belum punya hewan partner? Kenapa dia ada di pulau ini kalo tidak punya hewan partner? Kenapa dia punya tanda itu kalo dia tidak bisa punya hewan partner? Dan kenapa aku diminta jagain dia sama kakak?”
Ingat! Kalo kamu nggak bisa jagain dia tiap hari, maka tiap hari juga kamu akan punya utang 1 dolar sama kakak. Pilih mana? Jagain Amucchi atau berhutang sedolar sama kakak? Kalimat ancaman itu tergiang lagi di telinganya.
“Ukh...kakak yang gila!” ucapnya tanpa membuka mata, tangannya mengepal kuat sambil menggenggam seprei hingga berantakan. “Kenapa aku harus jagain cewek yang belum tentu seorang Ancor? Kenapa?”
Utang 1 dolar tiap hari sama kakak...
“Ukh!” ia terbangun duduk. Nafasnya memburu. Keringat bercucuran di wajahnya. Dipandanginya AC kamarnya. Pendingin itu rupanya mati. Ia lantas meraih remote AC yang terletak di meja belajarnya. Ditekannya sebuah tombol dan diaturnya suhu pendingin yang ia inginkan. Remote itu lalu dia buang ke atas ranjang.
Saat membuang remote itu, ia tak sengaja memandangi handphone miliknya. Diperhatikannya alat komunikasi udara itu. Sesuatu lantas melintas di otaknya. Tanpa berpikir dua kali lagi, diraihnya alat itu dan ditekannya sebuah nomor di sana.
“Halo? Siapkan rencana baru kita untuk mereka. Ingat, kalo perlu, rencana untuk tiap hari! Beritahu anak-anak yang lain. Saat kita kumpul di tempat biasa, rencana itu sudah harus tinggal membicarakan waktu eksekusinya. Paham?”
Klik. Telpon Ivan tutup setelah terdiam sebentar. Ivan memilih berbaring lagi. Ia meletakkan lengan di atas mata. Sebuah senyuman pun tersungging di bibirnya.
^^^
“Rencana tiap hari? Ada apa sebenarnya?”
“Entahlah. Tapi Ivan memang mengatakan hal itu.”
“Iya, tapi ini aneh. Apa Ivan sebegitu bencinya sama cewek itu, sampai dia berniat mengusili gadis itu tiap hari?”
“Seharusnya dia menceritakan pada kita alasannya. Tidak biasanya dia mau bertindak sampai sejauh itu ke seseorang.”
“Atau jangan-jangan...Ivan sebenarnya...suka sama cewek ini? Tapi cuma karena gengsi aja, dia...”
Brak!!!
“Apapun itu, sebaiknya kita segera siapkan rencananya atau Ivan akan mengamuk ke kita!”
“Apa sih? Kok kamu motong ucapan aku dengan mukulin meja?”
Yang ditegur memalingkan wajah.
“Sudah! Ayo, kita segera temui Rose dan Jane!”
^^^

~THREE~
“Gila benar ya tuh Ivan Cs! Ini sudah 2 minggu Amu-nya kita dia kerjain habis-habisan! Lama-lama, kubalas juga dia nanti!” cerocos Nuki suatu hari di toilet. “Mucchi...kamu beneran nggak papa?”
“Sudahlah, Ki, jangan dibalas deh...nanti juga dia bakalan nyerah.”
“Sakura juga, ngapain kayak belain mereka melulu. Tiap aku bilang kayak gini, Sakura selalu halangin. Kalo aku bilang gitu, Sakuranya ngelarang. Tiap aku mau ngelakuin pembalasan pun, Sakura selalu bilang nggak usah.” Nuki memperlihatkan wajah cemberutnya. “Sakura kenapa sih? Sakura mau ya kalo Mucchi-nya kita dikerjain melulu sama mereka? Jangan-jangan Sakura nggak sayang ya sama Mucchi? Sakura lebih milih Ivan Cs daripada kita?”
“Nuki apa-apaan sih? Kok nuduhnya gitu ke aku?” Sakura yang lembut protes balik. “Aku bukannya bermaksud belain mereka. Aku cuma nggak ingin Nuki dapat masalah sama orang macam mereka. Lagian, kalo Nuki ngebalas mereka, apa bedanya nanti Nuki sama orang-orang jahat macam mereka?”
“Aku emang nggak sama kayak mereka! Aku...”
“Kalian kenapa jadi bertengkar sih?” Amucchi yang keluar dari toilet, memotong ucapan Nuki. Didapatinya Nuki yang sedang duduk di atas di meja wastafel dan Sakura yang sedang menatap cermin dengan wajah yang cemberut. Sakura lantas membuka kacamatanya dan meletakkannya di sebelah Nuki, ia mencuci wajahnya.
Nuki memperhatikan Sakura. Ditatapnya Sakura dengan ujung matanya dan wajah yang agak kesal. Saat Sakura seolah tenang, ia pun menghela nafas sambil mengalihkan mata ke kacamata milik Sakura.
“Loh?” satu kata yang diucapkan Nuki segera mengambil perhatian Amucchi.
“Ada apa, Ki?”
“Ini...” Nuki mengangkat kacamata Sakura. “Sakura, kacamatamu kok jadi beda dari biasanya ya? Sejak kapan kamu menggantinya? Gagangnya unik, ada hiasan tengkorak dan tulang kecil-kecil...”
“Hati-hati! Nanti ini rusak lagi!” Sakura merampas balik miliknya dan memakainya lagi.
“Nuki, sikumu kok pakai plaster?” kini giliran Amucchi yang terheran. “Sakura juga, kenapa dengan plaster di balik ponimu?”
Nuki ikutan memandang wajah Sakura. Diperhatikannya dengan seksama. Ya, memang ada plaster luka di jidat kanan gadis itu. Ia sendiri menutupi siku kirinya dengan telapak tangan kanan. Sedangkan si Nuki, ia memegangi jidatnya dengan jari jemari kanannya.
“Ah ini bukan apa-apa kok, Mucchi. Ini cuma karena...jerawatku...meletus. Daripada dibiarin, kelihatan jelek, jadi kututupi pake plaster.” Sahut Sakura sambil tersenyum.
“Kalo aku, ini sih cuma luka kecil. Biasa, kejedot meja tadi pagi waktu mau berdiri. Iya kan, Sakura?” tanya Nuki yang langsung disambut oleh anggukan kepala oleh Sakura.
“Kamu sih, selalu aja ceroboh. Orangnya panikan. Terlalu bersemangat. Nggak bisa pelan-pelan. Nggak bisa hati-hati. Blak-blakan. Suka banget seenaknya.” Ucap Sakura sinis sambil memperbaiki kacamatanya.
“Apa kamu bilang?!” Nuki membeliakkan mata. “Sakura, tarik ucapanmu!”
“Nggak mau! Itu kan kenyataan!” sahut Sakura ketus.
“Sakura!”
“Nggak!”
Nuki mendengus kesal. Ia melompat turun. Didekatinya Amucchi, “Mucchi...yang dikatakan Sakura itu nggak benar kan? Ayo bilangin Sakura, Mucchi, aku kan anak baek yang bisa apa saja. Jago main basket lagi. Ya kan, Amucchi...? Ayo dong bilangin Sakura...! Suruh sakura tarik lagi ucapannya, Mucchi...!” ia merajuk.
“Ampun deh...manjanya keluar...!” ledek Sakura lagi.
“Biarin! We!” Nuki menjulurkan lidah.
“Hmp...hmp...hahahaha...” Mucchi malah tertawa menyaksikan Nuki.
Nuki dan Sakura lantas menatap gadis cantik itu. Keduanya saling menatap sebentar, lalu kembali menatap Amucchi dengan sebuah senyuman kelegaan. Tawa Amucchi benar-benar indah, enak didengar. Tawa yang menandakan bahwa gadis itu sedihnya sudah berlalu. Membuatnya cantik seperti sebelumnya. Nuki lantas memberikan tanda ok pada Sakura yang disambut dengan anggukan oleh gadis itu. Sakura lalu ikut mendekari Amucchi.
“Syukurlah. Akhirnya kamu bisa tertawa kembali, Mucchi.” Sakura meletakkan telapak tangannya di bahu Amucchi.
“Iya nih, 2 minggu lebih loh, Amucchi nggak pernah tertawa lagi kayak tadi. Padahal, hal yang paling menyenangkan dari Amucchi itu, ya tawanya yang menyenangkan itu. Iya nggak, Sakura?”
Sakura hanya mengangguk.
Amucchi segera terhenti saat Sakura dan Nuki menegurnya. Ditatapnya kedua sahabat baiknya itu. Kini Nuki sedang meletakkan kedua tangannya yang terpaut di belakang kepala sebagai penopang, gaya khas cewek itu jika sedang rileks. Sedangkan Sakura, ia sedang tersenyum sambil memandang dirinya.
“Ada apaan sih?”
“Ha?! Mucchi nggak ngerti? Ampun! Tulalitnya muncul!” teriak Nuki panik, bergerak dari posisinya tadi.
“Nuki, hush!” tegur Sakura, Nuki Cuma cengengesan.
“Pokoknya kamu tenang aja, Mucchi, kita berdua akan melindungimu dari mereka lebih baik lagi dari kemarin-kemarin dan hari ini. Kami janji! Ya kan, Nuki?”
“Ya, itu pasti!”
“Apa sih?” Amucchi ganti meminta jawaban Nuki.
Tapi bukannya menyahut, wajah Nuki malah memerah.
“Ah bukan, bukan apa-apa kok! Ayo, kita segera ke kelas, nanti kita terlambat!” ajaknya tanpa menyahut. Ia pergi ke belakang Amucchi dan mendorong kedua gadis itu segera keluar dari toilet.
Hm...
“Eh entar sore kita makan es krim di tempat biasa yuk! Sudah lama nih kita tidak ke sana. Aku jadi kangen deh sama rasa dingin yang masuk ke mulutku. Krim gula dan saus anggur kesukaanku...yummy...!”
“Dasar kau ini, pemakan manis!”.
“Aku juga ingin makan es krim kok, Sakura. Apalagi ketemu sama kakak itu di sana. Sudah lama kita nggak melihatnya. Ya kan, Nuki?” Amucchi bersuara.
“Kakak itu?”
“Ah iya ya? Bukankah Sakura selalu mencuri pandang ke arah kakak itu kalo kita lagi makan di sana? Ya kan, Mucchi?”
“Kalian ini apa-apaan sih? Kakak siapa? Curi pandang apa?”
“Ki, wajah putri ayu kita memerah!” goda Mucchi lagi.
“Benar. Benar.”
“Kalian apa-apaan sih? Nuki...Mucchi...udah deh...aku kan nggak segitunya...” Sakura mencoba hentikan mereka.
“Ah berarti benar kan?” Nuki menggodanya lagi.
“Nuki!”
“Sakura suka sama kakak itu...! Hihihihi...suit suit...”
“Mucchi...!” Sakura mencoba hentikan Amucchi dengan cara mendekatinya.
Tapi Amucchi tampaknya sudah tahu apa maksud Sakura. Maka dia melompat ke depan dan menghadap ke keduanya sambil terus berjalan mundur. “Ok. Sudah diputuskan! Kita ketemu di sana jam empat sore ya! Jangan sampai ada yang telat ya! Soalnya kita akan bantu Sakura dekat sama kakak itu!” ucap Amucchi.
“Osh!” Nuki berhenti untuk memberikan hormat ala tentara ke Amucchi.
“Mucchi apa-apaan sih...! Aku kan belum setuju, Nuki!”
“Tidak ada tapi-tapian! Dag! Sampai ketemu di sana ya teman-teman!” teriak Amucchi menghiraukan kata-kata Sakura. Tangannya dilambaikan ke udara, ia mempercepat langkahnya.
“Amucchi...!”
Amucchi tidak menyahut. Ia lantas menghilang di lorong kiri di depan. Ya, mereka memang ada kelas sekarang dan kelas mereka tidak sama. Soalnya kelas yang harus mereka hadapi di siang hari adalah kelas yang sesuai dengan tipe hewan mereka. Amucchi yang tidak punya hewan akan menuju kelas khusus yang entah berada dimana di lorong kiri itu. Sedangkan Sakura harus ke kelas Wild karena hewannya adalah seekor harimau dan Nuki ke kelas Prey karena hewannya adalah seekor kelinci kecil yang manis.
“Kacamatamu...harus diganti karena terkena kejahilan Ivan Cs kemarin kan, Sakura?” tanya Nuki sebelum mereka berdua berpisah.
Sakura terdiam sebentar, sebelum akhirnya menyahut, “Yah, begitulah.”
^^^
Tlit! Kamera di koridor bersuara. Tampaknya ia mendeteksi sebuah gerakan yang tidak dikenal. Tlit! Kamera lain di lorong berikutnya ikut mendeteksi sesuatu.
Tlit! Tlit! Tlit! Tlit!
“Trrrrrrttttt...!!!”
“Bahaya! Bahaya! Seluruh pasukan segera ke sektor Top Secret A! Seorang penyusup dideteksi keluar dari sektor Top Secret A!!! Segera temukan! Diulangi! Seorang penyusup dideteksi keluar dari sektor Top Secret A!!! Segera temukan! Diulangi! Segera temukan! Bahaya! Bahaya!” sebuah suara dari speaker mulai terdengar.
Serta merta keadaan menjadi panik. Di sana sini terdengar suara derap langkah yang terburu-buru. Cahaya-cahaya merah menghiasi lorong-lorong Top Secret A. Alarm masih terdengar dimana-mana.
“Cari! Cari! Cepat cari!” seseorang yang tampaknya punya pengaruh, mengarahkan beberapa pasukan yang sudah datang di lorong tersebut.
Sementara itu, di ruang utama, seseorang yang memakai baju kapten pelaut baru saja masuk. “Apa yang terjadi?”
“Kami mendeteksi objek tidak dikenal baru saja melintas di lorong terlarang, Kapten! Dan kami yakin itu adalah sosok penyusup!” lapor salah seorang yang berada di depan layar besar.
“Penyusup?” kening sang kapten segera mengerut. Ia berpikir sebentar sebelum akhirnya menyadari sesuatu, “Tidak! Ruang Rahasia!”
Klik!
Lapor! Ada lubang di pintu Ruang Rahasia!”
“Sial!” Kapten meninju telapak tangan kirinya dengan kepalan kanan. Wajahnya memerah. Ia terlihat sangat geram. Diremasnya kepalan itu. Ia kemudian menoleh ke arah anak buahnya yang berseragam kapten cewek. “Segera hubungi Seven Fairy!”
“Baik!”
Seseorang tersenyum di suatu tempat. Di tangannya terdapat sebuah benda berbentuk gulungan. Sosok itu lantas berkata mengejek, "Fufufu...Got-cha..."
Ia lantas menghilang.
^^^
31 Januari 2012

[1] Strategic  Simulator (Stralator); alat elektronik seukuran 20x10 cm yang dipakai oleh mereka saat tidak bisa bermain sungguhan.
[2] Bread-Line Canteen (Breliteen); sifat kantinnya harus antri baru bisa dapat meja. Semua siswa mendapat jatah yang sama dan jenis yang sama. Jadi, disebut bread-line atau antrian jatah makan.

7 komentar:

  1. yatta!!! semoga novel ini dapat dilanjutkan!!!

    BalasHapus
  2. Ntar foto nya d tempel dsni ya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuapz...tapi pastinya sih kakak akan sediakan kolom tersendiri buat fotonya kalian

      Hapus
  3. -.-" gmna caranya biar bisa ada ftony ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya ade cepetan tag kakak foto ade sama hewan yang ade sukai. kalo risa sih harus sesuai dengan yang udah kakak sebutin di novel ya? soalnya kakak nggak pengen ubah lagi. ok? (n_n)

      Hapus
  4. -.-" kk Dx adany fto sam kucing anggorak T.T
    tpi kucing udh diambil k maoo Dx

    BalasHapus